Giant Berdarah-darah Sejak Sebelum Pandemi, BEI Sudah Ingatkan Hero

·Bacaan 2 menit

VIVA – PT Hero Supermarket Tbk atau HERO, pada akhir Juli mendatang akhirnya memutuskan menutup semua gerai Giant, salah satu unit bisnis ritel yang dikelolanya. Tanda tanda goyangnya salah satu raksasa ritel di Tanah air ini sebenarnya sudah terlihat beberapa tahun lalu, bahkan sebelum Pandemi COVID-19 melanda.

Berdasarkan catatan VIVA, kala itu Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna, sempat meminta penjelasan pihak HERO terkait penutupan enam gerai Giant di beberapa wilayah Jakarta dan Bekasi. Hal itu dilakukan pada awal semester II-20219 lalu.

Dia menjelaskan, koordinasi antara pihak BEI dan emiten berkode saham HERO itu pun sudah dilakukan. Guna menekankan untuk lebih mencermati potensi dan kekuatan bisnis dari masing-masing gerai miliknya yang masih ada.

"Manajemen sudah sepatutnya melakukan review terhadap kegiatan operasinya, sehingga dapat diputuskan yang mana yang bisa dilanjutkan kegiatannya, dan yang mana yang akan dihentikan," kata Nyoman, Senin, 1 Juli 2019.

Kala itu, BEI memastikan bisnis Giant sudah masuh radar yang terus disoroti perkembangannya. Selain fokus pada aspek perbaikan manajemen dan performa, Nyoman memastikan bahwa BEI akan turut memantau gerai-gerai Giant lainnya, guna melihat sikap Hero dalam melakukan review atas kinerja setiap gerai tersebut.

Baca juga: Daftar Lengkap Besaran Gaji ke-13 PNS yang Mulai Cair Hari Ini

Sebelumnya, pada 2018, hal serupa juga pernah dilakukan BEI kepada pihak Hero, atas penutupan beberapa gerai Giant dan Hero. Saat itu, manajemen Hero menjelaskan bahwa penutupan gerai Giant dan Hero dilakukan setelah mempertimbangkan sisi operasional dan bisnis demi melakukan efisiensi.

Seiring berjalannya waktu, pandemi COVID-19 pun melanda. Hal itu merupakan guncangan yang besar bagi bisnis dan keuangan Hero. Di mana, PT Hero Supermarket Tbk tercatat membukukan rugi tahun berjalan yang sangat dalam.

Bahkan, laporan keuangan Hero Supermarket per Desember 2020 berdarah-darah dengan mencatatkan rugi senilai Rp1,21 triliun. Nilai tersebut anjlok hingga 4.203 persen dibandingkan rugi pada tahun sebelumnya yang hanya Rp28,21 miliar.

Pendapatan dari induk usaha Hero Supermarket dan Giant ini pun amblas hingga 26,98 persen menjadi Rp8,89 triliun. Dari, posisi di tahun 2019 yang mencapai sebesar Rp12,18 triliun.

Tercatat, segmen penjualan makanan pun mengalami penurunan yang paling besar, yakni mencapai 32,67 persen yoy menjadi Rp6,05 triliun. Sementara, penjualan barang non-makanan pun turun 10,98 persen secara yoy menjadi Rp2,84 triliun.

Di akhir tahun 2020, jumlah aset Hero tercatat senilai Rp4,83 triliun, menyusut 20,08 persen dibandingkan akhir tahun 2019 yang sebesar Rp6,05 triliun. Sementara, ekuitas perseroan juga anjlok 49,41 persen menjadi Rp1,85 triliun, dan liabilitas yang terpantau menanjak 24,95 persen menjadi Rp2,98 triliun.

Di sisi lain, meskipun beban pokok pendapatan turun menjadi Rp6,49 triliun dari sebelumnya Rp8,73 triliun, namun laba kotor perseroan tetap lebih kecil yakni Rp2,39 triliun dari sebelumnya yang mencapai Rp3,44 triliun. Padahal, beban usaha mengalami sedikit peningkatan menjadi Rp3,55 triliun dari sebelumnya Rp3,48 triliun.

Hal itu masih ditambah dengan persediaan produk perseroan yang tercatat mengalami penurunan sebesar 29 persen menjadi Rp456,6 miliar pada 2020. Hal itu dinilai akibat menurunnya pembelian persediaan, dan kenaikan provisi inventory pada akhir tahun.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel