Gibah adalah Membicarakan Keburukan Orang Lain, Pahami Hukum dan Cara Menghindarinya

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta Gibah adalah istilah yang disematkan bagi seseorang yang membicarakan keburukan orang lain di belakangnya. Islam menyebutnya gibah, sementara istilah populernya gosip. Gibah termasuk perbuatan tercela dan tidak disukai oleh Allah SWT.

Segala perkataan yang termasuk dalam perbuatan gibah adalah baik menyebutkan aib badannya, keturunannya, akhlaknya, perbuatannya, urusan agamanya, dan urusan dunianya. Menurut Yusuf Al Qardhawi dalam kitab Al Halal Waal Haram Fi al Islam, gibah biasanya ditujukan untuk menghancurkan orang lain.

Agar seseorang bisa terhindar dari perbuatan gibah, menyadarinya sebagai perbuatan dosa adalah kuncinya. Selain itu, pahami juga bahwa gibah adalah perbuatan yang tidak memberikan faedah apapun. Bisa mendekati fitah, padahal fitnah lebih keji daripada pembunuhan.

Berikut Liputan6.com ulas gibah adalah membicarakan keburukan orang lain dari berbagai sumber, Rabu (3/2/2021).

Memahami Gibah dari Bahasanya

Ilustrasi Al-Qur’an | Credit: freepik.com
Ilustrasi Al-Qur’an | Credit: freepik.com

Istilah gibah secara etimologi berdasarkan Kamus Arab Indonesia berasal dari kata ghaabaha yaghiibu ghaiban yang berarti ghaib, tidak hadir. Berdasarkan etimologi ini dapat dipahami, gibah adalah bentuk “ketidakhadiran seseorang” dalam sebuah pembicaraan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, gibah adalah kegiatan membicarakan keburukan (keaiban) orang lain seperti bergunjing. Sementara dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, gibah adalah mengandung arti umpatan yang diartikan sebagai perkatan yang memburuk-burukkan orang lain.

Dalam Islam, gibah bukan perilaku yang terpuji dan sangat dilarang karena berisiko menimbulkan fitnah. Sebagaimana “fitnah lebih kerji daripada pembunuhan.” Perbuatan ini selain menyebabkan tali persaudaraan putus, juga membuat seseorang yang melakukan dipenuhi dengan dosa karena mengungkap aib yang tidak semestinya dibicarakan.

Berdasarkan pemahanan dari Hasan Sa’udi dalam bukunya Jerat-Jerat Lisan yang terbit tahun 2003 dijelaskan, bahwa gibah adalah menceritakan tentang seseorang yang tidak berada di tempat dengan sesuatu yang tidak disukainya. Baik menyebutkan aib badannya, keturunannya, akhlaknya, perbuatannya, urusan agamanya, dan urusan dunianya.

Memahami Gibah dari Para Ahli

Ilustrasi Al-Qur’an | Credit: freepik.com
Ilustrasi Al-Qur’an | Credit: freepik.com

Imam Nawawi mendefinisikan makna ghibahsebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani demikian:

Imam Nawawi berkata dalam kitab Al-Adzkar mengikuti pandangan Al-Ghazali bahwa gibah adalah menceritakan tentang seseorang dengan sesuatu yang dibencinya baik badannya, agamanya, dirinya (fisik), perilakunya, hartanya, orang tuanya, anaknya, istrinya, pembantunya, raut mukanya yang berseri atau masam, atau hal lain yang berkaitan dengan penyebutan seseorang baik dengan lafad (verbal), tanda, ataupun isyara.

Yusuf Al Qardhawi mendefinisikan makna ghibah sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al Halal Waal Haram Fi al Islam sebagai berikut:

Gibah adalah suatu keinginan untuk menghancurkan orang, suatu keinginan untuk menodai harga diri, kemuliaan dan kehormatan orang lain, sedang mereka itu tidak ada di hadapannya.

Dasar Hukum Gibah dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 12

Ilustrasi Al-Qur’an | (sumber: Pixabay)
Ilustrasi Al-Qur’an | (sumber: Pixabay)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Tafsirnya Menurut Kementerian Saudi Arabia

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan menjalankan apa yang disyariatkan! Hindarilah kebanyakan dari tuduhan tanpa ada sebab-sebab dan alasan yang tepat, karena sebagian dari prasangka itu dosa seperti berburuk sangka kepada orang yang secara lahir tampak baik.

Janganlah kalian mencari-cari aib orang-orang yang beriman. Janganlah salah seorang dari kalian menyebutkan tentang saudaranya dengan hal yang tidak disukainya, karena menyebutkannya dengan apa yang tidak disukainya itu seperti makan bangkai saudaranya.

Sukakah salah seorang di antara kalian makan bangkai saudaranya sendiri? Maka hindarilah menggunjingnya karena hal itu semisal makan bangkai saudara sendiri. Bertakwalah kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sesungguhnya Allah Maha Menerima tobat dari hamba-hamba-Nya yang bertobat kepada-Nya, Maha Penyayang kepada mereka.

Cara Agar Terhindar dari Gibah

Ilustrasi ngobrol | (Photo by Bewakoof.com Official on Unsplash)
Ilustrasi ngobrol | (Photo by Bewakoof.com Official on Unsplash)

Berkumpul dengan Orang Saleh

Tidak dapat dipungkiri jika pergaulan merupakan hal yang dapat membawa dampak besar pada kehidupan sehari-hari seseorang. Maka agar terhindar dari pergaulan yang salah, ada baiknya seorang muslim harus memilih dengan siapa ia berkumpul.

Menjaga Lidah dan Lisan

Seseorang dapat gibah karena dirinya tidak bisa menjaga lidah dan mulutnya untuk berkata sesuatu yang baik. Ketika tahu apa yang akan dibicarakan merupakan hal yang buruk, lebih baik tidak usah dikatakan, supaya terhindar dari bahaya lisan.

Menyadari Perbuatan yang Buruk

Agar tidak melakukan gibah, seseorang harus menyadari bahwa gibah adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah karena keburukan yang didapat tidak hanya pada orang yang menjadi bahan pembicaraan melainkan juga pada si pelaku gibah.

Intropeksi Diri

Intropeksi diri akan membuat seseorang merasa malu jika harus membicarakan keburukan orang lain sedangkan diri sendiri masih memiliki banyak kesalahan yang harus dibenahi.

Cara Agar Terhindar dari Gibah

Ilustrasi ngobrol | (Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash)
Ilustrasi ngobrol | (Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash)

Mengingat Kebaikan

Sebelum membicarakan keburukan seseorang, alangkah baiknya jika mengingat kebaikan orang tersebut terlebih dahulu. Maka, keinginan untuk membicarakan keburukan seseorang perlahan akan menghilang karena paham bahwa sebagai manusia biasa, pasti memiliki sisi baik dan sisi buruk.

Berpikir Positif

Ketika ada seorang teman memancing untuk membicarakan keburukan orang lain, seseorang akan menolak dengan perlahan dan khusnudzon atau berprasangka baik terlebih dahulu kepada orang yang akan dibicarakan tersebut.

Saling Mengingatkan

Ketika ada seorang teman memancing untuk membicarakan keburukan orang lain, maka sebagai seorang muslim yang baik hendaknya mengingatkan teman bahwa ghibah adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah.

Perbanyak Istighfar

Seorang muslim hendaknya memperbanyak istighfar kepada Allah untuk memohon ampunan atas segala dosa yang ia sengaja maupun tidak disengaja. Memperbanyak istighfar akan membuat seseorang senantiasa mengingat segala dosanya dan menghindari gibah.