Gibran Segera Bentuk Tim Revitalisasi Keraton Surakarta

Merdeka.com - Merdeka.com - Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka segera membentuk tim yang akan menangani proses revitalisasi Keraton Kasunanan Surakarta. Hal tersebut dilakukan setelah dua kubu yang berseteru berdamai.

Hari ini kedua kubu yang telah lama bertikai, yakni Lembaga Dewan Adat pimpinan GKR Wandansari alias Gusti Moeng dan Paku Buwono XIII, menghadiri jamuan makan siang di rumah dinas Wali Kota Solo Loji Gandrung. Usai makan bersama, mereka menyatakan telah menyatu dan siap memulai revitalisasi seperti yang digagas Gibran.

"Langkah selanjutnya ya kita nunggu dawuh (perintah) sinuhun dulu. Meskipun sudah jelas. Ya nanti saja ya," kata Gibran, Rabu (4/1).

Terkait pembentukan tim, dia menyebut akan dilakukan sambil jalan. Ia belum tahu apakah tim tersebut harus ada perwakilan dari dua kubu.

"Milih tinggal milih. Nanti sambil jalan, segera," ujarnya.

Terkait anggaran, Gibran mengaku belum ada. Baik dari APBD Kota Solo, Provinsi, APBN maupun program CSR.

"Kan sudah saya jelaskan tadi, APBD sudah diketok. APBD sudah dikunci. CSR sudah tak kunci juga," ungkapnya.

Dia mengaku telah menjelaskan hal tersebut kepada keluarga Keraton Kasunanan Surakarta. Dan mereka pun bisa memahami. Untuk tim kecil yang akan dibentuk, nantinya akan melibatkan semua pihak termasuk Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).

"Iya kita libatkan semuanya, semua kubu, semua keluarga besar dari tim cagar budaya," jelas dia.

"Ini nanti saya mintanya prosesnya cepet cepet saja. Kayak di Mangkunegaran Mangkunegaran lho, cepet sekali," imbuh Gibran.

Dia tak memungkiri jika ada persyaratan khusus yang harus dipenuhi pihak keraton saat revitalisasi dilaksanakan. Namun, Gibran enggan menyampaikan.

"Wis ngerti jawabannya kok tanya. Intinya kita pingin semua perintah satu pintu dari Sinuhun. Keluarga besar sudah setuju visi misi wali kota," katanya.

Putra sulung Presiden Jokowi memastikan Pemkot Solo tidak akan melakukan intervensi. Pihaknya tetap menunggu perintah raja Paku Buwono XIII.

"Saya ini siapa? Bukan anak raja. Kita perlakuan seperti Mangkunegaran. Wis jelas kan, jelas bentuknya," tutup Gibran. [fik]