Gilead pasang harga 2.340 dolar AS per pasien untuk obat COVID-19 remdesivirdi negara maju

Oleh Michael Erman, Ludwig Burger dan Manojna Maddipatla

(Reuters) - Gilead Sciences Inc pada Senin memasang harga obat antivirus-COVID-19 remdesivir sebesar 2.340 dolar AS (Rp33,6 juta) per pasien untuk negara-negara kaya dan setuju mengirimkan hampir semua pasokan obatnya ke Amerika Serikat dalam tiga bulan ke depan.

Label harganya sedikit di bawah kisaran 2.520 hingga 2.800 dolar AS yang pekan lalu disarankan oleh kelompok riset penetapan harga obat AS Institute for Clinical and Economic Review (ICER) setelah para peneliti Inggris mengatakan mereka menemukan bahwa steroid deksametason yang berharga murah mampu mengurangi secara signifikan angka kematian di kalangan pasien yang mengidap sakit parah karena COVID-19.

Remdesivir sudah diperkirakan bakal mendapatkan permintaan tinggi karena sejauh ini merupakan satu-satunya obat yang terbukti mengubah program COVID-19. Setelah obat yang diberikan secara intravena itu membantu mempersingkat waktu pemulihan rumah sakit dalam uji klinis, obat ini memenangkan otorisasi penggunaan darurat di Amerika Serikat dan persetujuan penuh di Jepang.

Obat ini diyakini paling efektif dalam mengobati pasien lebih awal dalam perjalanan penyakit daripada deksametason, yang mengurangi kematian pada pasien yang membutuhkan bantuan oksigen dan mereka yang menggunakan ventilator. Namun, remdesivir dalam formulasinya saat ini, hanya digunakan kepada pasien yang cukup sakit untuk memerlukan rawat inap untuk waktu pengobatan lima hari.

Perusahaan ini sedang mengembangkan versi inhalasi yang dapat digunakan di luar pengaturan rumah sakit.

Untuk para pasien di AS yang dijamin asuransi komersial, Gilead mengatakan akan membebankan biaya 3.120 dolar AS per kasus atau 520 dolar AS per botol. Itu adalah kenaikan 33 persen di atas 390 dolar AS per botol yang disebut Gilead akan ditagihkan kepada pemerintah negara-negara maju dan pasien AS dalam program kesehatan pemerintah.

'HARGA LUAR BIASA UNTUK OBAT SANGAT BIASA'

Dalam sebuah surat terbuka, Kepala Eksekutif Gilead Daniel O 'Day mengatakan harga itu jauh di bawah nilai yang diberikan mengingat bahwa pengeluaran rumah sakit awal dapat menghemat sekitar 12.000 dolar AS per pasien di Amerika Serikat.

Para pembela hak pasien berpendapat bahwa biayanya harus lebih rendah lagi karena remdesivir dikembangkan karena mendapat dukungan keuangan dari pemerintah AS.

Legislator AS Lloyd Doggett, seorang Demokrat dari Texas, mengatakan itu adalah "harga yang keterlaluan untuk obat yang sangat sederhana, yang dana pembayar pajaknya dihemat dari tumpukan kegagalan."

Remdesivir sebelumnya gagal menjadi obat Ebola dan belum menunjukkan bahwa obat ini bisa mengurangi kematian akibat COVID-19.

Gilead juga mengatakan setuju untuk terus mengirim sebagian besar pasokan remdesivir ke Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS), dengan badan ini dan negara-negara bagian bakal mengatur pengelolaan alokasi untuk rumah sakit-rumah sakit di AS sampai akhir September.

Saat ini ada lebih banyak kasus COVID-19 di Amerika Serikat daripada di Eropa, dengan beberapa negara bagian AS mencatat jumlah kasus baru tertinggi.

HHS telah mendistribusikan obat ini sejak Mei dan dijadwalkan habis setelah pekan ini. Seorang pejabat senior HHS mengatakan bahwa badan tersebut berharap obat itu akan segera menjadi sumber daya yang langka, dan karenanya ingin tetap terlibat dalam mengalokasikannya.

Badan itu mengatakan telah mengamankan lebih dari 500.000 kursus remdesivir untuk rumah sakit-rumah sakit AS sampai September. Itu mewakili semua proyeksi produksi Gilead selama Juli dan 90 persen produksinya pada Agustus dan September, selain alokasi untuk uji klinis, kata HHS.

Setelah persediaan kurang dibatasi, HHS akan berhenti mengelola alokasi, kata Gilead. Perusahaan ini tidak membahas strategi pasokannya untuk negara-negara maju di luar Amerika Serikat.

Harga Remdesivir telah menjadi topik perdebatan panas. Para ahli mengatakan Gilead perlu menghindari terlihat sedang mengambil keuntungan dari krisis kesehatan demi mencari laba.

Harga saham Gilead hampir flat pada Senin.

Para analis di Royal Bank of Canada memperkirakan obat ini dapat menghasilkan pendapatan 2,3 miliar dolar AS pada 2020, membantu mengimbangi lebih dari 1 miliar dolar AS biaya pengembangan dan distribusi. Mereka mengatakan keuntungan tambahan bisa dibatasi karena vaksin dan perawatan yang lebih baik sudah di depan mata.

Badan regulasi kesehatan Uni Eropa pekan lalu merekomendasikan persetujuan bersyarat untuk obat ini ketika digunakan pada orang yang sakit kritis.

Gilead telah dikaitkan dengan pembuat obat generik yang berbasis di India dan Pakistan, termasuk Cipla Ltd dan Hetero Labs Ltd, untuk membuat dan memasok remdesivir di 127 negara berkembang.

Versi Cipla dihargai kurang dari 5.000 rupee India (66,24 dolar AS), sementara versi Hetero Lab dihargai dengan 5.400 rupee.

(Laporan Michael Erman di New York; disunting oleh Peter Henderson dan Bill Berkrot)