Gita Wirjawan: Pertumbuhan Ekonomi Pasca COVID-19 akan Melambat

Zulfikar Husein

VIVA – Menteri Perdagangan periode 2011-2014, Gita Wirjawan menjelaskan, berbagai risiko negatif akan mempengaruhi ekonomi dunia setelah pandemi COVID-19 benar-benar berakhir. Menurutnya pertumbuhan ekonomi sejumlah negara akan melambat, termasuk Indonesia.

"Karena aggregate demand atau daya beli di seluruh dunia sudah turun saat ini dan kelihatannya enggak akan bisa naik lagi sebelum atau pra COVID-19," kata Gita, dalam acara webinar Buka Suara VIVA Network bertajuk 'New Normal: Bisakah Bangkitkan Ekonomi RI?', Selasa, 9 Juni 2020.

Baca Juga: Anindya Bakrie Ungkap Strategi Bisnis Bertahan Saat Pandemi COVID-19

Di sisi lain, Gita mengungkapkan, akan terjadinya penurunan produktivitas karena disrupsi terhadap rantai pasok yang terjadi di negara-negara ekonomi besar seperti China ataupun seluruh dunia. Di samping adanya peningkatan polarisasi antara dua ekonomi besar Amerika Serikat dan Tiongkok. 

"Ini sudah mulai kelihatan gonjang-ganjing antara mereka dalam penanganan Hong Kong, Laut China Selatan, Jepang, India dan tensi perdagangan yang semakin meruncing," ujarnya.

Baca Juga: Daftar 100 Negara Teraman dari COVID-19, RI Urutan 97

Gita menambahkan, situasi ini akan beririsan dengan terjadinya peningkatan proteksionisme atau aspirasi masing-masing negara untuk menjadi bagian dari deglobalisasi rantai pasok. Serta, meningkatnya divergensi antara pasar uang atau modal dan perekonomian riil.

Di samping tekanan dari sisi-sisi tersebut, Gita juga memperkirakan lonjakan utang dari sisi negara, korporasi hingga individu. Sebab, untuk membangkitkan kembali perekonomian membutuhkan dana atau stimulus ekonomi yang lebih besar dari kapasitas fiskal yang dimiliki.

Akan tetapi, Gita menganggap, kondisi-kondisi yang tercipta itu akan membuat berubahnya model bisnis ke arah virtual atau digital. Industri yang tidak mampu beradaptasi dengan kondisi itu dipastikannya tidak akan mampu bangkit.

"Kita mau jual, komunikasinya harus dari pipa digital. Kalau begitu itu akan lebih unggul dibanding siapapun yang tidak bisa adaptasi. Banyak di Indonesia yang saya kira tidak bisa adaptasi dan kelihatannya agak-agak terpuruk. Jadi, semakin tidak bisa adaptasi mereka akan semakin terpuruk," ucapnya.