Gizi Kurang, Penyebab Kasus Malnutrisi Tinggi di Indonesia

·Bacaan 4 menit

VIVA – Persoalan malnutrisi di Indonesia masih menjadi tantangan dalam upaya membangun generasi Indonesia yang berkualitas di masa mendatang.

Berkaca dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada anak balita di Indonesia mencapai 17,7 persen, sedangkan stunting mencapai 30,8 persen.

Begitu juga dengan obesitas yang menunjukkan peningkatan, di angka 6,7 persen pada 2013 menjadi 8 persen pada 2018. Kasus malnutrisi bukan hanya menjadi tumpuan dalam satu bidang saja.

Edukasi gizi, sistem reproduksi, sanitasi, pola asuh hingga faktor ekonomi turut andil dalam upaya mengentaskan kasus malnutrisi di Indonesia.

Bahkan jika ditelaah lebih dalam, kasus malnutrisi menjadi sebuah lingkaran siklus, di mana anak yang terlahir dengan gizi kurang akan tumbuh menjadi remaja dengan status kurang gizi dan berpotensi kembali melahirkan anak yang kurang gizi.

Pada posisi ini, anak menjadi fase yang rentan terhadap kasus malnutrisi dan berpotensi berulang ke generasi berikutnya.

"Anak yang terlahir dengan gizi kurang akan tumbuh menjadi remaja dengan status gizi kurang dan berpotensi kembali melahirkan anak dengan kondisi gizi kurang. Mata rantai ini lah yang mesti kita putus dengan berbagai macam upaya," ujar Dokter Spesialis Anak, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A (K), dalam keterangannya, Sabtu, 19 Juni 2021.

Beberapa faktor tersebutlah yang menjadi landasan untuk melakukan studi lapangan South-East Asia Nutrition Survey (SEANUTS) yang telah berjalan di 21 Kabupaten/Kota pada 15 Provinsi di Indonesia. SEANUTS turut melibatkan sekitar 25 personel dari kalangan dokter, ahli gizi, kesehatan masyarakat dan bidang olahraga.

SEANUTS sendiri merupakan studi mengenai gizi dan kesehatan yang dilakukan di empat negara di Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Studi ini diprakarsai oleh FrieslandCampina, induk perusahaan PT Frisian Flag Indonesia.

Bekerja sama dengan lembaga penelitian dan universitas di Indonesia, SEANUTS melibatkan sekitar 3 ribu anak di seluruh Indonesia dengan rentang usia 6 bulan-12 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gizi anak dengan menilai asupan makanan, antropometri, aktivitas fisik, dan parameter biokimia.

Prof. Rini sebagai Peneliti Utama SEANUTS mengungkapkan, betapa pentingnya edukasi gizi kepada masyarakat dalam upaya menekan kasus malnutrisi pada anak.

Hal itu menjadi demikian penting dalam rangka mencetak generasi penerus bangsa yang sehat dan berdampak pada peningkatan produktivitas dan kualitas sumber daya manusia di kemudian hari.

"Definisi anak kan sejak dari dalam kandungan. Status gizi kurang pada ibu dan asupan makanan rendah gizi dapat berdampak pada saat proses kehamilan. Kondisi ini bisa menyebabkan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, prematur, dan meningkatkan risiko anak mengalami gizi kurang, gizi buruk, atau pun stunting," pungkas dia.

Rini menambahkan, faktanya remaja saat ini cenderung menyukai makanan cepat saji, karena harganya yang terjangkau dan praktis. Namun, konsumsi makanan yang baik, seharusnya juga turut mempertimbangan keseimbangan nutrisinya.

"Ini terjadi tak hanya di perkotaan, tetapi juga pedesaan. Akar masalahnya adalah masih minimnya pengetahuan tentang pedoman gizi seimbang," tambahnya.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan telah merilis panduan makan sesuai dengan pedoman gizi seimbang yang disebut 'ISI PIRINGKU'. Di dalam panduan ini disebutkan 2/3 dari 1/2 piring adalah makanan pokok berupa nasi atau penukarnya.

Lalu 1/3 dari 1/2 piring adalah lauk pauk yang terdiri dari sumber protein hewani dan nabati. Sebanyak 1/3 dari 1/2 piring adalah buah-buahan. Kemudian, 2/3 dari 1/2 piring adalah sayuran.

Berbicara mengenai salah satu komponen dalam pedoman gizi seimbang, Rini menyebutkan pentingnya asupan beragam sumber gizi, termasuk di dalamnya protein hewani, seperti daging, ikan, ayam, telur dan susu dengan kandungan asam amino esensial yang bermanfaat untuk membantu mengoptimalkan tumbuh kembang anak, termasuk saat masih fase dalam kandungan.

Asam amino esensial sendiri tidak dapat diproduksi oleh tubuh, dan harus didapatkan dari makanan yang mengandung protein.

"Protein sangat penting untuk mengganti sel-sel tubuh anak yang rusak, jadi anak harus menerima asupan protein itu minimal tiga kali sehari berikut dengan makanan pokok. Kualitas protein hewani juga lebih baik dan lebih mudah diserap oleh tubuh," pungkas dia.

Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia Andrew F. Saputro menyampaikan, mereka berkomitmen untuk terus memberikan nutrisi terbaik yang terjangkau untuk seluruh lapisan masyarakat dalam rangka membantu mengentaskan kasus malnutrisi di Indonesia, sesuai dengan visi perusahaan 'Nourishing by Nature'.

“Kami terus berupaya meningkatkan literasi gizi melalui edukasi gizi kepada masyarakat serta turut serta dalam memperkaya pengetahuan terkait status gizi anak Indonesia, salah satunya melalui studi SEANUTS. Kami juga berkomitmen menghadirkan rangkaian produk terlengkap sebagai salah satu langkah besar untuk mendukung pemerintah dalam meningkatkan status gizi dan menekan angka stunting serta malnutrisi di Indonesia," terang Andrew.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel