Gojek akui ada penundaan rencana investasi di masa pandemi

Ida Nurcahyani
·Bacaan 1 menit

Perusahaan teknologi Gojek mengakui adanya penundaan dan perubahan rencana investasinya di masa pandemi COVID-19.

Menurut Head of Transport Gojek Group, Raditya Wibowo, rencana investasi tersebut dialihkan ke jaminan kesehatan mitra dan penggunanya.

"Beberapa bulan terakhir, perencanaan dan roadmap transport kita terpengaruh karena harus menyesuaikan (karena adanya pandemi)," kata Raditya melalui diskusi virtual, Selasa.

"Tadinya kita mau bikin lebih banyak shelter (GoRide), tapi dengan adanya adaptasi kebiasaan baru, kami sekarang lebih fokus ke upaya kesehatan," ujarnya menambahkan.

Lebih lanjut, Raditya menyebutkan saat ini telah terdapat sejumlah Posko Aman di 16 kota di Indonesia. Di posko tersebut, mitra pengemudi dapat memperoleh fasilitas disinsfeksi kendaraan, cek suhu, dan lainnya.

"Banyak effort kami yang diarahkan ke sana untuk mengembangkan ke jaminan kesehatan," kata pria yang juga akrab disapa Dito ini.

Selain Posko Aman, terdapat juga Zona Aman J3K di sejumlah kota termasuk Jabodetabek. Penempatan shelter tersebut bertempat di simpul-simpul transportasi publik.

"Selain membuat antrian lebih rapi dan experience yang lebih bagus, kita juga melakukan SOP kesehatan di shelter," kata dia.

Tak hanya berfokus pada jaminan kesehatan mitra dan penumoang GoRide, Raditya mengatakan pihaknya pun memberikan intensif untuk layanan GoCar, yang juga diminati penggunanya selama pandemi.

"Fokus GoCar lebih ke protokol kesehatan juga. Seperti sekat pelindung, pendekatan kita lebih ke tujuannya agar hampir semua armada GoCar terpasang sekat, karena customer dan driver berhak merasa aman," kata dia.

Raditya berharap, pengalihan fokus ke jaminan kesehatan mitra dan pengguna layanannya itu dapat menjadi salah satu kemudahan guna menunjang adaptasi baru di tengah pandemi.


Baca juga: Mengenal lebih dekat tentang "sustainable investing"

Baca juga: Facebook dan Paypal jadi investor baru Gojek

Baca juga: Astra investasi Rp2 triliun di Gojek