Gojek dan Investor Ibarat Gula dengan Semut

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah , Novina Putri Bestari

VIVA – Gojek ibarat gula yang dengan mudah mengundang semut, dalam hal ini investor, untuk mendekat. Seperti diketahui, raksasa teknologi besutan Mark Zuckerberg, Facebook, untuk pertama kalinya menyuntikkan dana ke startup yang didirikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim.

Bukan hanya itu. Gojek adalah perusahaan Indonesia pertama yang disuntik Facebook. Asal tahu saja, Gojek sudah banyak mendapat pendanaan. Baik dari investor dalam negeri maupun global. Rupanya, bisnis transportasi online menjadi primadona di mata mereka.

Berdasarkan data yang dikelola VIVA Digital, Rabu, 3 Juni 2020, berikut beberapa nama besar yang menanam sahamnya di pesaing Grab tersebut. Pada awal 2017, dua raksasa teknologi China, Tencent dan JD.com, yang menyuntikkan dana.

Kantor pusat Tencent.

Tencent.

Tencent merupakan perusahaan yang menaungi aplikasi pesan instan WeChat dan game online Playersunknown's Battlegrounds (PUBG). Mereka menyuntikkan dana sebesar US$150 juta. Sedangkan JD.com, yang merupakan raksasa e-commerce, menanamkan uangnya sebesar US$100 juta.

Lalu, pada Februari 2018, Gojek menerima pendanaan dari dua perusahaan besar di Tanah Air, PT Astra International Tbk sebesar US$150 juta dan Grup Djarum melalui anak perusahaan Global Digital Niaga (GDN), yang nilainya tidak disebutkan.

Kemudian akhir 2018, Google akhirnya setuju bergabung menjadi investor Gojek, bersamaan dengan Temasek Holding, BUMN Singapura. Sayangnya, nilai investasi keduanya tidak dibuka ke publik.

Berlanjut ke November 2019, di mana Unilever Swiss Holding membeli saham Gojek dengan nilai total Rp2,77 miliar. Pertengahan Maret 2020, kompetitor tunggal Grab itu lagi-lagi mendapat kucuran dana US$1,2 miliar tetapi investornya diungkap ke publik. Rumor mengatakan bahwa investornya adalah Amazon.

Penggalangan dana pun tidak berhenti. Pada putaran terkini tidak hanya diisi Facebook, hadir pula PayPal yang ingin mengintegrasikan layanannya dengan Gojek. Google dan Tencent juga dikonfirmasi kembali berinvestasi pada penggalangan dana terbaru ini.

Facebook.

Menanggapi investasinya di Gojek, COO WhatsApp, Matt Idema, investasi ini untuk memperkuat layanan pembayaran digital. Ia mengatakan investasi ini juga menjadi komitmen Facebook melayani dan membantu bisnis kecil dan menengah di Indonesia, serta membawa pelanggan ke dalam ekonomi digital.

"Gojek adalah aplikasi pertama dan tercepat di Indonesia dalam memesan makanan dan minuman, belanja, perjalanan, dan melakukan pembayaran digital di seluruh Asia Tenggara. Investasi ini adalah komitmen Facebook untuk melayani bisnis UKM dan membantu mereka serta pelanggannya ke dalam ekonomi digital," kata Idema, dikutip dari laman resmi Facebook.

Ia juga menjelaskan, sejak diluncurkan pada 2010, Gojek memberikan akses ratusan ribu pedagang ke platformnya. Dari sisi bisnis pembayaran digital, Idema mengatakan kalau Gojek telah memproses miliaran transaksi setiap tahunnya, dan juga diklaim memiliki e-wallet terbesar di Indonesia.

Oleh karena itu, melalui pembayaran digital, maka Facebook akan membantu lebih banyak lagi partisipasi orang di sektor perekonomian. "Investasi ini mendukung tujuan bersama Facebook dan Gojek untuk memberdayakan bisnis dan mendorong inklusi keuangan di Tanah Air," jelasnya. Facebook tercatat dalam daftar investor bersama perusahaan pembayaran digital asal Amerika Serikat, Paypal, di Gojek.