Gojek Ungkap Deretan Capaian di Usia 1 Dekade

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Gojek tahun ini menandai kiprahnya sebagai perusahaan rintisan yang sudah berusia 10 tahun. Menurut Co-CEO Gojek, Kevin Aluwi, dirinya tidak menyangka Gojek bisa menjadi seperti sekarang.

"Sebagai salah satu co-founder Gojek, sejujurnya saya sendiri tidak tahu kalau Gojek bisa keluar dari Jakarta. Itu seperti rencana suatu saat nanti," tuturnya saat konferensi pers virtual, Kamis (12/11/2020).

Dalam kurun waktu satu dekade ini, Kevin mengatakan Gojek sudah mengalami banyak perubahan. Salah satunya adalah Gojek kini sudah menjadi super app yang hadir di empat negara Asia Tenggara, dari sebelumnya adalah layanan call center.

"Dari 20 mitra pada 2010, kini ada dua juta mitra di 2020. Lalu pada 2015 ada 10 ribu mitra merchant di 2015, sekarang ada 900 ribu mitra merchant," tuturnya menjelaskan.

Selain itu, Gojek kini telah hadir dengan layanan dompet digital Gopay, dari sebelumnya menggunakan menggunakan pembayaran tunai. "Kini Gopay telah menjadi layanan dompet terdepan dan menjadi salah satu kami melakukan inklusi finansial," tuturnya melanjutkan.

Kevin juga bersyukur ekosistem Gojek dapat memberikan dampak positif bagi ekonomi Indonesia. Hal itu diketahui dari laporan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, nilai produksi ekosistem Gojek setara 1 persen PDB nasional.

"Itu semua bisa dilakukan berkat tiga aplikasi super. Mungkin banyak yang mengenal aplikasi hanya untuk konsumen, tapi ada juga untuk driver dan merchant. Hal ini bisa dilakukan berkat dukungan dari semua ekosistem tersebut," ujarnya melanjutkan.

Deretan Inovasi dan Investasi Gojek di 2020

Registrasi menggunakan scan barcode di Zona Nyaman J3K Gojek, Stasiun Depok Baru, Senin (26/10/2020). Zona Nyaman J3K Gojek yang dilengkapi dengan penitipan helm pribadi bertujuan agar pelanggan komuter dapat bepergian dengan aman dan nyaman. (Liputan6.com/Fery Pradolo)
Registrasi menggunakan scan barcode di Zona Nyaman J3K Gojek, Stasiun Depok Baru, Senin (26/10/2020). Zona Nyaman J3K Gojek yang dilengkapi dengan penitipan helm pribadi bertujuan agar pelanggan komuter dapat bepergian dengan aman dan nyaman. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Di samping itu, Gojek sepanjang 2020 juga terus melakukan sejumlah inovasi, mengingat tahun ini cukup menantang bagi perusahaan sendiri maupun rekan ekosistem.

"Kami menghadapinya dengan strategi yang lebih resilient, dengan fokus perusahaan untuk terus mendukung ekosistem," tutur Co-Founder Gojek, Andre Soelistyo.

Oleh sebab itu, Gojek tidak hanya memfokuskan investasi dan inovasi di teknologi, tapi juga strategi yang mendukung operasional tahun ini. Karenanya, sejumlah inovasi yang dihadirkan berfokus agar konsumen mempercayai layanan Gojek.

"Jadi, kami fokus pada layanan yang higienis dan trust mengingat saat ini masih ada pandemi," ujarnya melanjutkan. Adapun inovasi yang ditujukan untuk layanan meliputi inisiatif J3K, Gojek Shield, layanan investasi digital, hingga memperluas layanan grocery.

Gojek juga mulai menerapkan sistem otomatisasi suntuk mendukung para mitra UMKM. Hal itu dilakukan dengan GoBiz Self-Serve Onboarding dan CareTech Ticket Automation, termasuk meningkatan sumber daya manusia di perusahaan.

Berhasil Cetak Laba Operasional

Gojek mulai uji coba penerapan sekat pelindung di layanan GoRide. (Sumber: Gojek)
Gojek mulai uji coba penerapan sekat pelindung di layanan GoRide. (Sumber: Gojek)

Andre juga menuturkan fundamental perusahaan di tahun ini juga semakin kuat sebab didukung total nilai transaksi di dalam platform Gojek (Gross Transaction Value-GTV) telah mencapai USD 12 miliar (Rp 170 triliun).

Selain itu, Andre juga menuturkan pencapaian tahun ini adalah Gojek berhasil mencetak laba operasional di luar biaya headquarter atau yang lebih dikenal dengan istilah contribution margin positive.

"Dengan adanya perkembangan ini, kami menjadi lebih confidence, karena ke depannya untuk mencapai bisnis yang lebih sustainable lebih mungkin," tuturnya menjelaskan.

Pencapain itu disebut tidak lepas dari 38 juta pengguna aktif bulanan Gojek yang tersebar di Asia Tenggara. Andre juga menuturkan GTV dari layanan GoPay saat ini telah melampaui di masa pra-pandemi.

"Hal ini terjadi seiring dengan semakin banyaknya konsumen dan merchant yang beralih ke layanan digital, lalu bertransaksi secara online," tutur Andre menuturkan.

(Dam/Ysl)