Golden Plantation Berpotensi Terdepak dari Bursa

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta - Mendapat suspensi hingga 24 bulan, PT Golden Plantation Tbk (GOLL) mencari cara agar mampu bertahan dan melanjutkan usaha. Hal itu diungkapkan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI).

Merujuk Pengumuman Bursa No.: Peng-SPT-00002/BEI.PP1/01-2019, penyampaian laporan keuangan kuartal III, penghapusan pencatatan (Delisting) dan pencatatan kembali (Relisting) saham di BEI bisa terjadi karena dua hal.

Pertama mengalami kondisi yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha perusahaan, baik secara finansial atau secara hukum, serta kelangsungan status perusahaan sebagai perusahaan terbuka, dan perusahaantidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai.

Hal kedua ialah saham perusahaan akibat suspensi, hanya diperdagangkan di Pasar negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 bulan terakhir.

"Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka saham Perseroan telah disuspensi selama 24 bulan pada tanggal 30 Januari 2021. Sehingga berdasarkan Ketentuan III.3.1.2 Peraturan Bursa Nomor I-I tentang Penghapusan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) Perseroan sudah memenuhi kriteria Penghapusan Pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI)," tulis keterangan tersebut.

Kinerja Perseroan

Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Hingga 30 November 2020, saham GOLL yang dimiliki PT Jom Prawarsa Indonesia mencapai 76,42 persen. Lalu 23,58 persen saham dimiliki oleh masyarakat.

Terkait laporan keuangan terakhir, GOLL mempublikasikannya pada kuartal III 2019, yakni mencapai Rp2,59 triliun. Dari jumlah tersebut, aset tanaman perkebunan sebesar Rp1,87 triliun dan pendapatan Rp11,2 miliar dengan kerugian Rp48 miliar.

"Bursa meminta kepada publik untuk memperhatikan dan mencermati segala bentuk informasi yang disampaikan oleh Perseroan serta pengumuman Bursa," tulisnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini