Google Tolak Teori Konspirasi 5G dan Corona, hingga Aplikasi Zoom

Lazuardhi Utama, Novina Putri Bestari

VIVA – Raksasa teknologi Amerika Serikat (AS), Google, melarang teori konspirasi antara Virus Corona COVID-19 dengan jaringan 5G, serta penggunaan Aplikasi Zoom. Larangan yang terakhir hanya berlaku untuk karyawan mesin pencarian terbesar di dunia tersebut.

Google secara tegas melarang iklan dan kata kunci yang berhubungan dengan teori konspirasi jaringan 5G yang dikaitkan dengan Virus Corona.

Mengutip situs Tech Radar, Kamis, 9 April 2020, mereka menyatakan iklan itu masuk ke dalam kebijakan peristiwa sensitif. Kebijakan tersebut mulai ada sejak Januari tahun ini, atau ketika COVID-19 mulai menyebar keluar China.

"Larangan ini bertujuan untuk mencegah perusahaan dan individu mengambil keuntungan dari keadaan darurat kesehatan publik. Caranya dengan memblokir iklan mereka hadir di hasil pencarian," kata Juru Bicara Google Jose Castaneda.

Sebelumnya diberitakan sejumlah serangan diungkapkan para ahli teori konspirasi terhadap menara BTS 5G di seluruh Inggris. Ilmuwan langsung mencak-mencak dan telah berulang kali mengatakan tak ada hubungan antara pandemi Corona global dengan jaringan berkecepatan tinggi generasi kelima.

Pemerintah Inggris juga telah meminta kepada seluruh platform media sosial untuk menghentikan penyebaran hoax dan misinformasi tersebut. Adapun soal Aplikasi Zoom, Google mengaku larangan atas dasar masalah keamanan.

"Baru-baru ini tim keamanan kami memberi tahu seluruh karyawan yang menggunakan Zoom, kalau aplikasi itu tidak akan lagi aktif di komputer perusahaan. Itu karena tidak memenuhi standard keamanan kami untuk aplikasi yang dipakai oleh karyawan Google," ungkap Castaneda.

Meski begitu, ia mengaku jika Google masih akan mengizinkan penggunaan Zoom lewat aplikasi dan browser ponsel.

Aplikasi Zoom menghadapi serangan balik dari pengguna yang khawatir tentang kurangnya enkripsi ujung-ke-ujung (end to end encryption) dari sesi rapat dan zoombombing, di mana para tamu yang tak diundang tiba-tiba bisa masuk ke dalam rapat.

Sementara itu, pengguna Aplikasi Zoom di Indonesia, yang dicatat oleh data Statqo Analytics, berjumlah lebih dari 250 ribu pengguna per 26 Maret 2020. Kendati demikian, pengguna di Tanah Air juga mempertanyakan keamanan Aplikasi Zoom.

Hal ini akhirnya membuta Menkominfo Johnny G Plate turun tangan serta berencana mencari aplikasi serupa. "Kami juga ada lagi aplikasi video telekonferensi sendiri untuk digunakan di lingkungan pemerintah. Kami lagi menjajaki. Nanti seperti Zoom ala Kominfo," ungkap Johnny di Jakarta.