GOTOKO klaim 2,5 juta warung alami kendala penuhi kebutuhan dagang

Platform Gotoko mengklaim dari hasil penelitian yang dilakukan masih ada 2,5 juta warung belum terhubung secara langsung dengan brand principals atau underserved retailers sehingga kerap menjadi kendala pemilik dalam memenuhi kebutuhan barang dagangannya dengan efisien.

CEO dan President Director GOTOKO Gurnoor Singh Dhillon di Tangerang Jumat mengatakan kompleksitas rantai distribusi membuat pemilik warung perlu berbelanja ke banyak distributor dengan harga yang kurang bersaing.

Kemudian adanya tantangan pengiriman yang membuat pemilik warung perlu mengeluarkan waktu, energi, dan biaya lebih besar yang membuat biaya operasional makin tinggi.

Sebagai platform digital, GOTOKO fokus untuk memastikan kebutuhan pemilik warung dapat terpenuhi dengan menyediakan beragam produk dengan harga yang kompetitif dan jaminan waktu pengiriman.

“GOTOKO hadir bukan sebagai disruptor, melainkan sebagai enabler yang bertujuan untuk meningkatkan layanan underserved retailers dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari pelanggannya,” katanya.

Saat ini GOTOKO telah beroperasi di 37 kota/kabupaten pada 13 kluster di wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Jangkauan operasi GOTOKO tersebut turut didukung sejumlah warehouse guna mengoptimalkan layanannya.

Gurnoor menambahkan, strategi GOTOKO bertajuk Winning in Many Indonesias berfokus pada pengembangan bisnis secara lokal dan mendalam di wilayah-wilayah operasi GOTOKO.

Strategi ini bertujuan tak hanya untuk meningkatkan penggunaan aplikasi, melainkan untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan sekaligus agar dapat terus memberikan dukungan yang optimal bagi warung-warung yang memang sudah menjadi pelanggan GOTOKO.

“Fokus kami terhadap pertumbuhan berkelanjutan di berdasarkan kebutuhan dan keinginan tiap wilayah. Misalnya, gudang tidak hanya kami tempatkan berdasarkan kepadatan jumlah underserved retailers, melainkan di lokasi-lokasi strategis untuk mengoptimalkan tingkat layanan pengiriman agar tepat sasaran. Strategi ini pula yang mendasari aksi ekspansi kami ke Jawa-Bali yang telah dilakukan sejak awal semester kedua tahun ini, bahwa kami akan melakukan ekspansi setelah kami berhasil dan dapat memberikan potensi keberlanjutan bisnis di suatu wilayah,” jelas Yenny.

Melalui model bisnis yang dilakukan, meski baru meluncur pada Agustus 2020 atau saat puncak pandemi, GOTOKO kini telah menjadi salah satu platform e-B2B terbesar di Indonesia. Hal ini terbukti dari pertumbuhan yang tercatat lebih dari 32 kali lipat sejak tahun lalu.

“Pertumbuhan positif yang kami raih tak lepas dari dukungan yang kami peroleh dari sejumlah stakeholders kami. Dan tentu saja dari para pemilik warung yang ingin terus mengembangkan bisnisnya. Kami di GOTOKO percaya bahwa teknologi yang kami hadirkan akan dapat membantu pemilik warung menciptakan efisiensi bisnis,” ujarnya.