GPI Minta 75 Juta Pemilih Pemula Tidak Golput

Liputan6.com, Jakarta : Sekelompok aktivis muda yang tergabung dalam Grassroots Solidarity meminta agar para pemilih pemula untuk tidak menjadi pemilih golput dalam pemilu 2014 mendatang. Rakyat diminta menjadi pemilih yang cerdas.

"Saat ini ada sekitar 75 juta pemilih pemula dan kami harapkan tidak menjadi pemilih golput. Tetapi harus menjadi pemilih cerdas dalam memilih capres yang akan datang," kata Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Islam (GPI) Rahmat Kardi dalam dialog pemilih cerdas untuk capres 2014 di Bakoel Coffee, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (18/4/2013).

Kardi menuturkan, pemilih cerdas tidak boleh terjebak aspek etno sentris atau asal muasal seorang capres yang berasal dari suku dan rasnya. Karena, suku dan ras tidak bisa menjadi patron keberhasilan seseorang dalam memimpin bangsa Indonesia yang akan datang.

"Masyarakat Indonesia harus mengubah pola pikir dalam memilih pemimpin. Bukan dari satu suku, tapi dari kapabilitas seseorang dan pengalamannya di politik pemerintahan," ucapnya.

Sementara mantan Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Taufiq Amrullah menjelaskan, masyarakat Indonesia harus banyak belajar pada pilpres yang terjadi di Amerika Serikat. Pilpres AS yang memenangkan Barack Obama menjadi Presiden pertama berkulit hitam di Amerika Serikat. Lantaran, kemenangan Obama telah membuktikan lunturnya budaya rasisme yang terjadi di AS selama berabad-abad.

"Jangan lihat dari mana asalnya, tapi lihat bagaimana cara-cara dia memenangkannya. Kita lihat Obama orang berkulit hitam pertama yang menjadi Presiden AS yang jauh sekali dengan budaya AS yang lebih condong dengan isu rasisme pada masa lalu," tutur Taufiq.

Oleh karena itu, Taufiq menilai untuk pilpres Indonesia ke depan, masyarakat Indonesia harus keluar dari dikotomi Jawa dan non Jawa untuk menjadi pemimpin Indonesia di masa depan. Menurut Taufiq, ada banyak tokoh yang memiliki kemampuan memimpin baik yang berasal dari kalangan non-Jawa. Seperti masyarakat Sumatra, Sulawesi, dan lainnya.

"Obama itu salah satu inspirasi dalam memenangkan capres yang akan datang. Dengan cara mengeduksi masyarakat untuk menjadi pemilih cerdas dalam memilih pemimpinnya yang bukan didasari dari sisi etnis, tetapi dari sisi kemampuan memimpin seperti halnya Hatta Rajasa," terang Taufiq.

"Karena itu rencananya saya bulan depan akan ke Belanda dan Perancis untuk mempelajari memenangkan seorang capres dengan penyampaian yang secara riil, dan bukan dari aspek pencitraan," pungkas Taufiq. (Frd)