Grab Bergantung sama Indonesia

Lazuardhi Utama
·Bacaan 6 menit

VIVAGrab kini menjelma tidak hanya sebagai penguasa layanan tumpangan online, tapi juga layanan keuangan digital di Asia Tenggara melalui Grab Financial Group. Saat ini mereka memiliki 200 juta orang atau pelanggan, atau 30 persen, dari total populasi penduduk Asia Tenggara yang mencapai 655 juta orang.

Sementara warga yang belum memiliki rekening bank totalnya mencapai 44 persen atau 288 juta orang dari total penduduk di kawasan ini. Lantas, siapa sosok di balik kesuksesan Grab Financial Group? Adalah Reuben Lai yang menjabat sebagai senior managing director Grab Financial Group.

Baca: Merger Gojek dengan Tokopedia untuk Menggembosi Grab dan Shopee

Tangan dinginnya berhasil membawa lembaga keuangan yang biasa disebut GFG itu diterima dengan tangan terbuka di tiga negara, yakni Indonesia, Thailand dan Vietnam, selain Singapura sebagai tuan rumah dari Grab.

Lai mengaku jika dirinya sangat bersemangat menggunakan saluran bisnis untuk menciptakan dampak dan perubahan dalam kehidupan pelanggan dari rival Gojek tersebut. Ia bercerita, ketika bergabung pada 2015, Grab hanya menawarkan satu layanan, yaitu ride-hailing.

Alasan bergabung dengan Grab karena ia percaya pada misi Anthony Tan yang ingin membangun perusahaannya memiliki keuntungan keuangan dan sosial. "Itu selaras dengan tujuan saya," kata dia kepada Kr-Asia, Minggu, 4 April 2021.

Tak lama setelah bergabung, Lai langsung menggebrak. Produk fintech utama mereka, GrabPay bagian dari GFG, resmi mengudara pada Januari 2016. Awalnya, layanan keuangan digital Grab ini dibangun hanya berdasarkan pada kebutuhan mitra pengemudi atau driver saja.

Bagi para driver, Grab adalah pintu masuk mereka ke dalam sistem perbankan formal. Driver baru harus memberikan rekening bank sebagai bagian dari syarat untuk bergabung dengan Grab. Jika mereka tidak memiliki akun maka Grab akan membantu mereka mengajukan permohonan saat itu juga.

“Yang cukup menarik adalah saya akhirnya berkunjung ke setiap negara di Asia Tenggara untuk bernegosiasi dengan bank-bank ternama sehingga driver kami dapat dengan mudah membuka rekening bank. Saya juga menanyakan apakah mereka (bank) bisa memberikan pinjaman kepada driver kami untuk membeli mobil,” ungkapnya.

Sebelum Grab seperti sekarang, driver biasanya bekerja untuk pemilik armada – dalam hal ini mobil – yang akan mengambil sebagian besar keuntungan serta menyisakan sangat sedikit bagi driver. Hal ini, di mata Lai, sangat tidak adil.

“Saya ditolak oleh hampir semua orang sampai ada perusahaan pembiayaan di Indonesia yang mengiyakan. Kami akhirnya mulai membuat sistem penilaian, pengumpulan, dan pencairan. Itulah awal mula bisnis pinjaman kami," tegas Lai.

Dari situlah, Grab dapat bermitra dengan lebih banyak bank untuk menawarkan layanan baru, termasuk asuransi bagi para driver. Dengan mendaftar di Grab, maka driver bisa mendapatkan akses ke layanan keuangan dan perbankan. Saat ini transaksi tanpa uang tunai menjadi hal yang biasa.

"Padahal, belum lama ini, transaksi nontunai masih menjadi hal baru di pasar negara berkembang seperti Indonesia. Bagi banyak orang yang tidak berada di kota besar, itu masih terjadi," tutur dia.

“Di sini (Grab Financial Group/GFG) kami membangun semuanya berdasarkan tiga tesis sederhana. Harus dapat diakses jadi kami memecah dan membuat produk 'mikro-segalanya' seperti asuransi maupun pinjaman mikro, dan sebagainya," paparnya.

Selanjutnya, harus sangat nyaman dan dengan mulus tertanam dalam kehidupan sehari-hari pelanggan. Dan, yang terakhir adalah transparansi. "Kami memperjelas harga kami bagi pelanggan," jelas Lai.

Baca juga: Selama Pandemi COVID-19, Tiga Layanan Ini Selamatkan Bisnis Grab

Bukan itu saja. Grab juga sedang dalam proses membangun bank digital di Singapura pada 2022 setelah konsorsium Grab-Singtel memperoleh lisensi dari Monetary Authority of Singapore (MAS) pada Desember tahun lalu.

Sementara populasi negara kota itu sebagian besarnya sudah dilayani oleh sistem keuangan formal, namun 40 persen orang dewasa di Singapura ternyata tidak memiliki rekening bank. Mayoritas dari mereka tidak siap untuk pensiun.

"Artinya, mereka underinsured dan underinvested. Sedangkan bank konvensional bergerak lambat. Diperlukan waktu berminggu-minggu bagi bisnis dan individu baru untuk membuka rekening bank atau memperoleh pinjaman," papar Lai.

Cengkeram bisnis Grab

Selain Singapura, Indonesia juga menjadi pangsa pasar yang panas untuk bank digital dengan munculnya neobank baru yang didukung oleh perusahaan teknologi, termasuk 22 persen saham Gojek di Bank Jago dan Seabank milik Sea Group - sebelumnya bernama Bank BKE.

Pada Februari 2021, Grab dilaporkan mengincar kemitraan dengan pemberi pinjaman lokal Bank Capital untuk mendorongnya masuk menjadi bankan digital, meskipun mereka membantah laporan tersebut.

“Kami sangat fokus untuk melayani mereka yang kurang terlayani dan tidak memiliki rekening bank di seluruh Asia Tenggara. Di sini kami melihat peluang yang luar biasa besar ada di Indonesia dan negara lain. Kami melihatnya dengan penuh minat tapi belum ada yang diumumkan sampai saat ini," katanya.

Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia sangat penting dan strategis bagi Grab dan lengan bisnis fintech-nya. Selain menjadi pemegang saham mayoritas Ovo, Grab juga berinvestasi di LinkAja, platform e-wallet milik BUMN sejak 2019. Artinya, Grab telah mendapatkan lebih banyak akses ke dalam ekosistem perusahaan pelat merah di Tanah Air.

“Kami percaya bahwa memiliki ekosistem yang terbuka dan terhubung itu sangat penting. Layanan keuangan sangat terkait jadi satu-satunya cara bagi kami untuk menambah nilai bagi pelanggan adalah memastikan mereka dapat memindahkan dan mengelola uang mereka dengan cara yang paling sederhana dan efisien," ungkap Lai.

Ia melanjutkan, saat ada kesempatan bermitra dengan LinkAja maka ada perspektif yang sama. Sebab, kemitraan ini adalah inisiatif yang didukung pemerintah karena ingin mendorong inklusi keuangan dan menggiring lebih banyak orang ke dalam sistem pembayaran digital.

Tensi persaingan layanan keuangan digital di Indonesia terus memanas karena Gojek juga akhirnya ikut menggelontorkan uang ke LinkAja. Gojek dilaporkan dalam tahap pembicaraan intens untuk melakukan merger dengan Tokopedia - mitra dekat Grab dan investor Ovo lainnya.

Melihat strategi bisnis Gojek, Lai mengaku bukan menjadi perhatian utama Grab. “Selain Tokopedia, kami juga bermitra dengan Lazada kok. Kami kan mau ada di mana-mana, bukan taman bertembok. Kami percaya bahwa menjaga pelanggan sebagai pusat dari apa yang kami lakukan. [Persaingan] Tidak boleh terlalu mengganggu kami,” tegas dia.

Di luar Indonesia, persaingan ketat juga terjadi di Thailand dan Vietnam. Grab telah bermitra dengan Kasikorn Bank di Thailand pada November 2018 untuk meluncurkan layanan pembayaran setelah mendapatkan investasi US$50 juta dari bank tersebut.

Tautan tersebut memberi Grab cara untuk mengajak penggunanya bergabung dengan serentetan layanan keuangan, dan yang lebih penting, sekutu lokal yang berpengaruh. Di Thailand, sektor pembayaran seluler sangat kejam.

Sejumlah dompet digital — PromptPay, True Money, Rabbit Line Pay dan AirPay — mendapat dukungan penuh dari pemerintah maupun modal ventura besar. Pada Februari 2020, suntikan modal sebesar US$706 juta dari Bank Ayudhya (Krungsri) Thailand, anak usaha Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG), mengucur untuk memberikan pinjaman khusus bagi driver dan merchant Grab.

Sementara Vietnam, kata Lai, adalah pasar strategis ketiga di mana GFG mencurahkan investasi US$500 juta pada Agustus 2019. Satu tahun sebelumnya, Grab telah berinvestasi di fintech Vietnam Moca untuk meluncurkan dompet digital. Ini telah menjadi salah satu dari tiga dompet seluler paling populer di negara itu.