Grab dan Traveloka Bakal IPO, Pengamat Sebut Peluang Tarik Dana ke Asia Tenggara

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Grab Holdings Inc dan Traveloka bersiap menjadi perusahaan terbuka dalam beberapa bulan ke depan. Langkah ini memulai pesta menyambut perusahaan internet di Asia Tenggara yang lama terabaikan.

Pada pekan ini, Grab akan mengungkap IPO melalui perusahaan cek kosong atau special purpose acquition company (SPAC) yang mendapat dukungan T Rowe Price hingga Temasek. Grab akan mencapai kesepakatan merger dengan SPAC yang dapat menciptakan valuasi USD 35 miliar. Hal itu menurut sumber yang mengetahui hal tersebut.

Langkah itu juga akan diikuti Traveloka Indonesia. Traveloka akan mencatatkan saham melalui SPAC Bridgetown yang didukung miliarder Richard Li dan Peter Thiel. Nilainya akan mencapai USD 5 miliar.

Menurut sumber, ketentuan pada dua kesepakatan itu masih bisa berubah. Kesepakatan besar ini akan menghadirkan serangkaian penawaran umum perdana dari perusahaan rintisan paling berharga mulai dari Grab, Gojek, dan Tokopedia hingga PropertyGuru Singapura.

Debut perusahaan rintisan itu memungkinkan investor bertaruh pada pengaruh industri mobile yang sebelumnya didominasi Lembaga keuangan dan industri di Asia Tenggara.

Dalam jangka panjang, pengamat mengharapkan perusahaan teknologi yang tumbuh cepat mendominasi perhatian seperti yang mereka miliki di China dan Amerika Serikat.

"Kami telah melihat tren serupa di pasar lain yang lebih mapan, dan sekarang ini adalah periode emas Asia Tenggara,” ujar Direktur Cathay Capital Rajive Keshup, seperti dilansir dari Bloomberg, Senin (12/4/2021).

Ia menuturkan, pihaknya ingin banyak modal mengalir ke kawasan Asia Tenggara setelah pengumuman tersebut. "Dan itu adalah indikator utama yang sangat baik tentang kesehatan wilayah ini,” kata dia.

Minat di Kawasan Asia Tenggara Meningkat

Seorang pria melihat layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Seorang pria melihat layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Adapun minat di kawasan Asia Tenggara meningkat yang didorong sebagian faktor eksternal. Aliran dana telah keluar dari nama-nama perusahaan teknologi terbesar di China seiring Pemerintah China meluncurkan kampanye untuk membatasi Alibaba dan rekan-rekannya pada akhir tahun lalu.

Di sisi lain, industri teknologi di Asia Tenggara, rumah bagi sekitar 10 populasi dunia dan beberapa negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat seperti Indonesia. Wilayah ini tidak memiliki satu pun perusahaan teknologi besar yang tercatat di bursa saham. Hingga Sea go public di New York pada 2017.

Terlepas dari pertumbuhan populasi pengguna ponsel pintar juga didorong pertumbuhan ekonomi dan kebijakan pemerintah mendorong investasi di teknologi.Potensi itu menarik Amazon, Tencent dan Alibaba melihat konsumen Asia Tenggara sebagai kunci.

Investor pun bertaruh pada wilayah Asia Tenggara. Ekonomi internet Asia Tenggara mendingin selama pandemi tetapi belanja online akan pulih cepat dan tiga kali lipat menjadi lebih dari USD 300 miliar pada 2025. Hal itu berdasarkan riset dari Google, Temasek Holdings Pte dan Bain and Co.

“Karena beberapa perusahaan ini mulai mendaftar, ini bisa menjadi transformasi bagi pasar modal yang telah didominasi oleh sektor tradisional seperti keuangan, real estate, dan komoditas,” ujar Manajer Investasi Robeco Joshua Crabb.

Peluang Menarik Investor AS

Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Seorang wanita berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Ia menuturkan, hal ini berdampak besar pada pasar di China selama dekade terakhir dan mungkin baru dimulai di ASEAN.

Untuk lebih cepat memanfaatkan antusiasme investor, banyak perusahaan rintisan seperti Grab dan Traveloka yang tetap tidak menguntungkan sedang mempertimbangkan perusahaan cek kosong atau SPAC.

Namun, pencarian modal melalui SPAC telah meningkatkan perhatian di antara regular di AS hingga Singapura. Ada kekhawatiran pelonggaran dan persyaratan akuntabilitas dapat menekan investor. Pendaftaran saham melalui SPAC dapat diselesaikan dalam hitungan minggu dibandingkan 12 bulan yang untuk go public dengan cara biasa.

Veteran SPAC telah memperingatkan kalau beberapa pendatang baru mungkin menilai terlalu tinggi target mereka, entitas yang dipegang erat sering kali tidak memiliki tata Kelola yang tepat dan kematangan operasional untuk menggelar penawaran saham mereka sendiri.

Di sisi lain, di Asia Tenggara, serbuan IPO sebagian didorong oleh peningkatan yang menakjubkan dari Sea Grup sejak awal 2020. Perseroan menunjukkan keinginan besar terpendam untuk perusahaan internet di kawasan itu.

"Pencatatan Grab memberikan jalan keluar yang ditunggu-tunggu bagi investor yang ada. Sementara itu, memberikan peluang menarik bagi investor AS untuk investasi di perusahaan berkembang di Asia Tenggara. Ini akan mempercepat perhatian investor dan diharapkan lebih banyak yang catatkan saham,” ujar Chief Investment Officer Kamet Capital Partners, Kerry Goh.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini