Gubernur Bank Sentral EMEAP tegaskan pentingnya dialog kebijakan

Para Gubernur Bank Sentral yang tergabung dalam Executives' Meeting of East Asia Pacific Central Banks (EMEAP) menegaskan pentingnya dialog kebijakan dan memperkuat kerja sama regional.

Hal ini mengemuka dalam forum pertemuan tahunan EMEAP yang turut dihadiri oleh perwakilan dari Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) dan Bank for International Settlements (BIS), yang diselenggarakan secara hybrid di Seoul, Korea Selatan, Senin.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo, yang hadir secara virtual mewakili Gubernur BI, dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin, mengapresiasi kemajuan dan diskusi yang secara intensif telah dilakukan oleh EMEAP selama ini.

Selain itu, para gubernur bank sentral juga mendiskusikan risiko inflasi dan prospek ekonomi serta langkah yang dapat ditempuh oleh EMEAP untuk memastikan pemulihan ekonomi yang berkelanjutan dan mencermati dampak normalisasi kebijakan di negara maju terhadap nilai tukar serta aliran modal di kawasan, begitu pula dengan opsi kebijakan yang dapat ditempuh.

Ia menyampaikan peningkatan tekanan inflasi global sebagai imbas kenaikan harga komoditas internasional yang berdampak pada inflasi domestik perlu dimitigasi dengan stabilitas nilai tukar, serta respons kebijakan untuk mengendalikan ekspektasi inflasi dan koordinasi dalam menjaga kesinambungan pasokan.

Dalam kesempatan ini, Dody juga menekankan pentingnya implementasi Integrated Policy Framework (IPF) guna memitigasi risiko yang bersifat multidimensi.

Adapun bauran kebijakan BI diarahkan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan melalui kebijakan moneter. Sementara kebijakan lainnya diarahkan untuk menjaga keberlanjutan pemulihan ekonomi sebagai bagian dari bauran kebijakan ekonomi nasional.

Di sisi lain, ia mengungkapkan momentum pemulihan ekonomi Indonesia akan tetap terjaga di tengah moderasi pertumbuhan ekonomi global.

Ekonomi domestik pada triwulan II-2022 tumbuh 5,44 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan perkiraan yang ditopang oleh peningkatan konsumsi serta kinerja ekspor.

Ke depan, risiko moderasi ekonomi global dan kenaikan inflasi perlu terus dicermati dan akan direspons dengan kalibrasi bauran kebijakan.

Baca juga: BI: Bank sentral dunia hadapi tantangan yang sangat kompleks
Baca juga: Bank Dunia: Mata uang digital tak jamin akses kepada inklusi keuangan
Baca juga: Pimpinan bank sentral dunia bahas ketidakpastian global di Bali