Gubernur BI dorong perbankan turunkan bunga kredit

Budi Suyanto
·Bacaan 2 menit

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mendorong perbankan untuk menurunkan tingkat bunga kredit karena bank sentral ini telah menambah likuiditas perbankan dan menurunkan suku bunga acuan menjadi 3,75 persen.

“Kami juga terus dengan tidak segan-segan mengharapkan perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit untuk mendorong pemulihan ekonomi,” kata Perry Warjiyo dalam jumpa pers virtual usai Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, suku bunga kredit dipengaruhi oleh tiga faktor yakni suku bunga dana atau cost of fund, biaya administrasi dan premi risiko.

Baca juga: BI turunkan suku bunga acuan jadi 3,75 persen

Jika dihitung sejak Juli 2019, kata dia, bank sentral ini total sudah menurunkan 225 basis poin suku bunga acuan.

Penurunan itu mendorong bunga pasar uang antarbank (PUAB) berada pada posisi rendah mencapai 3,29 persen pada Oktober 2020 dan suku bunga dana itu menurun.

“Jadi faktor pertama (suku bunga dana) ini mestinya bisa menurunkan suku bunga kredit,” katanya.

Sedangkan faktor kedua yakni biaya administrasi, kata dia, dengan adanya pandemi COVID-19 membuat perbankan melakukan digitalisasi, sehingga justru mendorong biaya administrasi menurun.

Meski begitu, penurunan suku bunga kredit di perbankan belum signifikan bahkan belum mencapai satu persen kendati bank sentral sudah menurunkan suku bunga acuan bahkan sebelum ada pandemi COVID-19.

Baca juga: BI injeksi likuiditas perbankan Rp680,89 triliun

BI juga sudah menambah likuiditas perbankan mencapai hingga Rp680,89 triliun hingga 17 November 2020 melalui penurunan giro wajib minimum (GWM) sebesar Rp155 triliun dan ekspansi moneter sebesar Rp510,09 triliun.

Gubernur BI memperkirakan perbankan masih memiliki persepsi risiko kredit yang dikucurkan di tengah menurunnya aktivitas ekonomi.

“Risiko kredit itu meningkat dan sejumlah bank meningkatkan kebutuhan untuk pencadangan terhadap risiko kredit. Ini barang kali faktor penyebab kenapa suku bunga kredit belum turun,” imbuh Perry.

Namun, Ia yakin perbaikan ekonomi akan terus berlanjut yang sudah ditunjukkan kondisi korporasi besar terutama yang melakukan ekspor itu juga sudah membaik.

Membaiknya kinerja korporasi itu, kata dia, tercermin dari peningkatan indikator penjualan dan kemampuan bayar mayoritas dunia usaha pada triwulan III-2020 dan akan terus berlanjut karena perbaikan ekonomi dalam negeri dan global.

“Sudah saatnya ini penyaluran kredit itu terus didorong, sudah saatnya kita membangun optimism, sudah saatnya kita meningkatkan ekonomi,” katanya.