Gubernur BI Sebut Aset Kripto Jadi Ancaman Ekonomi Indonesia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan bahwa pemulihan ekonomi di berbagai negara telah mendorong meningkatnya volume perdagangan dunia dan meningkatkan harga komoditas.

Hal itu ia disampaikan dalam sambutannya pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2021 di Jakarta, Rabu (24/11/2021).

Namun Perry juga memperingatkan masih ada lima permasalahan yang muncul dari dinamika global yang harus dicermati, karena berpotensi memberikan dampak bagi kinerja ekonomi dalam negeri.

Masalah pertama, adalah normalisasi kebijakan di negara maju dan ketidakpastian pasar keuangan global, dan masalah kedua, yaitu dampak pandemi COVID-19 pada korporasi dan sistem keuangan.

"Ketiga, meluasnya sistem pembayaran digital antarnegara dan risiko aset kripto," paparnya.

Keempat, adanya tuntutan untuk mendorong pengembangan ekonomi hijau, serta kelima, pandemi COVID-19 telah menyebabkan melebarnya kesenjangan, sehingga diperlukan inklusi ekonomi.

“Kelima permasalahan global ini akan menjadi agenda prioritas presidensi Indonesia dalam G-20 tahun 2022 dengan tema 'Recover Together Recover Stronger',” tuturnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pertumbuhan Ekonomi

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RGD) Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (19/12/2019). RDG tersebut, BI memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) sebesar 5 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RGD) Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (19/12/2019). RDG tersebut, BI memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR) sebesar 5 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, pada 18 November 2021, Gubernur BI Perry Warjiyo yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia di Kuartal IV 2021 akan melanjutkan tren positif.

Hal ini melihat realisasi pertumbuhan ekonomi di kuartal II dan III yang ada di zona positif juga.

"Pertumbuhan ekonomi domestik diprakirakan terus berlangsung secara bertahap, meskipun kinerja ekonomi triwulan III 2021 lebih rendah dari capaian triwulan sebelumnya sebesar 7,07 persen (yoy). Ini seiring pembatasan mobilitas untuk mengatasi varian delta COVID-19," ungkapnya dalam video konferensi Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI - November 2021, (18/11/2021).

Positifnya pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2021 ini akan ditopang oleh kinerja ekspor Indonesia. Hal ini bisa menyeimbangkan masih tertahannya konsumsi rumah tangga dan investasi.

Pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2021 juga didukung oleh kinerja positif Lapangan Usaha (LU) Industri Pengolahan, Perdagangan, dan Pertambangan, serta kinerja ekonomi wilayah Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua), Kalimantan, hingga Sumatera.

Hal ini tercermin dari kenaikan indikator hingga awal November 2021 seperti mobilitas masyarakat, penjualan eceran, ekspektasi konsumen, PMI Manufaktur, serta realisasi ekspor dan impor.

"Untuk itu, pertumbuhan ekonomi diprakirakan meningkat lebih tinggi pada tahun 2022, didorong pula oleh mobilitas yang terus meningkat sejalan dengan akselerasi vaksinasi, pembukaan sektor-sektor ekonomi yang lebih luas, dan stimulus kebijakan yang berlanjut," tandasnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel