Gubernur BI Yakin Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tembus 5,3 Persen di 2021

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2021 bakal di atas 2020. Bahkan menurutnya, untuk mencapai angka pertumbuhan ekonomi 5,3 persen bukan hal yang sulit.

Perry menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia didukung oleh kinerja ekspor, stimulus fiskal dan adanya kenaikan angka investasi. Kenaikan investasi ini tidak lepas dari implementasi Undang-Undang Cipta Kerja.

"Isya Allah dengan semangat membangun optimisme, insya Allah tahun ini ekonomi kita akan lebih baik dari tahun lalu," katanya dalam webinar Akselerasi Indonesia Maju melalui Penanaman Modal dan Insentif Fiskal, Kamis (1/4/2021).

Untuk mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional, Bank Indonesia tengah mengerahkan seluruh kebijakannya untuk tidak hanya menjaga stabilitas. Tetapi juga ikut mendukung pemulihan ekonomi dengan bersinergi bersama pemerintah.

"Kami telah menurunkan suku bunga terendah di dalam sejarah menjadi 3,5 persen. Kami terus memastikan likuiditas perbankan itu sangat longgar dengan quantitative easing Rp 776 triliun yang terbesar di antara emerging market," jelas dia.

Di samping itu, BI juga berperan aktif untuk pendanaan APBN baik tahun 2020/2021. Pada tahun lalu BI sudah melakukan pendanaan sebesar Rp 473,4 triliun dalam mekanisme burden sharing. Sementara sampai dengan 16 Maret 2021 sudah sebesar Rp 65 triliun.

"Kami juga melakukan relaksasi di bidang kebijakan makroprudensial. Terakhir dengan DP kredit perumahan maupun DP kredit bermotor yang 0 persen. Kami juga melakukan digitalisasi sistem pembayaran demikian juga mendukung upaya gerakan bersama bangga buatan Indonesia dan gerakan masyarakat wisata di Indonesia," jelasnya.

Perry melanjutkan pihaknya juga tak henti melakukan sinergi erat antara pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dunia usaha, hingga perbankan. Hal itu bertujuan untuk pemulihan ekonomi menuju Indonesia maju.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Pemulihan Ekonomi Mulai Terlihat, 2021 Jadi Tahun Investasi?

Deretan gedung perkantoran di Jakarta, Senin (27/7/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta mengalami penurunan sekitar 5,6 persen akibat wabah Covid-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Deretan gedung perkantoran di Jakarta, Senin (27/7/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta mengalami penurunan sekitar 5,6 persen akibat wabah Covid-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Sebelumnya, pasar modal Indonesia khususnya pasar saham dipandang masih cukup menarik di tahun 2021. Setelah tahun 2020 IHSG dapat ditutup melebihi ekspektasi konsensus di level 5.700-5.800an, bukan tidak mungkin IHSG bergerak ke arah positif sesuai konsensus di level 6.800an di tahun 2021.

Hal ini didukung oleh pemulihan ekonomi seiring mulai berjalannya program vaksinasi, stabilitas nilai tukar rupiah, iklim suku bunga rendah, serta peningkatan nilai investasi di Indonesia atas dampaknya penerapan omnibus law.

Bagi investor, tahun 2021 bisa jadi momen yang tepat untuk kembali berinvestasi di produk pasar modal dengan lebih aktif namun juga tetap terukur, setelah tahun 2020 investor cenderung memilih wait and see ataupun memilih investasi yang lebih low risk.

Beberapa sentimen yang telah disebutkan di atas berpotensi menjadi faktor yang baik untuk membawa IHSG tutup tahun dengan angka yang positif. Yang lebih menarik, minat investasi Investor pada reksa dana berbasis saham khususnya ETF tercatat tumbuh double digit selama tahun 2020.

"Beberapa sentimen positif mulai terlihat. Mestinya ini sinyal baik untuk investor mulai melakukan penempatan pada instrumen investasi berbasis saham seperti reksa dana indeks - ETF,” kata Direktur Utama PT Danareksa Investment Management (DIM) Marsangap P. Tamba, Rabu (31/3/2021).

Marsangap menambahkan, aksi pemerintah yang akan mewajibkan Kementrian/Lembaga (KL) dari pusat hingga daerah untuk membeli produk dalam negeri adalah salah satu contohnya, demikian halnya dengan penyaluran dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang juga diharapkan akan menjadi penggerak ekonomi yang saat ini terdampak pandemi.

DIM, sebagai manajer investasi pertama yang menerbitkan reksa dana di industri pasar modal Indonesia, memiliki cakupan produk yang luas termasuk reksa dana indeks – ETF sebagai salah satu lini produk unggulan perusahaan. Per Desember 2020 lalu DIM menerbitkan produk reksa dana indeks – ETF ke-2 yakni Reksa Dana Danareksa ETF MSCI Indonesia ESG Screened yang berbasis saham-saham ESG.

DIM optimis Danareksa ETF MSCI Indonesia ESG Screened dapat menjadi salah satu pilihan investor pasar modal Indonesia. Produk ini berinvestasi dengan komposisi portofolio investasi minimum 80 persen dan maksimum 100 persen dari Nilai Aktiva Bersih pada Efek bersifat ekuitas yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia serta terdaftar dalam Indeks MSCI Indonesia ESG Screened.

Pembentukan Danareksa ETF MSCI Indonesia ESG Screened tersebut merupakan kolaborasi DIM dengan Deutsche Bank sebagai Bank Kustodian serta Mandiri Sekuritas sebagai Dealer Partisipan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: