Gubernur BI yang Baru Harus Mampu Kelola Moneter  

  • Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    Tempo
    Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    TEMPO.CO, Surakarta - Pembangunan jalan tol yang menghubungkan dua kota terbesar di Indonesia, Jakarta dan Surabaya, berdampak menyusutnya lahan pertanian. …

  • Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    TRIBUNnews.com
    Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    TRIBUNNEWS.COM - Sekitar 75 persen dari penduduk Indonesia memenuhi kehidupannya dengan uang kurang dari 4 dollar AS per hari. …

  • Potensi hasil laut senilai Rp 360 triliun raib

    Potensi hasil laut senilai Rp 360 triliun raib

    Merdeka.com
    Potensi hasil laut senilai Rp 360 triliun raib

    MERDEKA.COM. Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menilai, sejak Presiden SBY mengeluarkan Instruksi Presiden No.15 Tahun 2011 tentang Perlindungan Nelayan, armada perikanan nasional justru bertumpuk di perairan kepulauan. …

TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah pelaku perbankan mengharapkan agar Gubernur Bank Indonesia yang baru mampu mengelola masalah terkait dengan moneter dan makro-prudensial yang baik. Gubernur BI juga harus terbuka dan bisa berkoordinasi secara baik dengan pengelola kebijakan fiskal lainnya, seperti Kementerian Keuangan.

"Selain pribadi yang berintegritas dan berindependensi tinggi, penguasaannya terhadap masalah pengelolaan moneter harus bisa diandalkan," kata Direktur Utama Bank DKI, Eko Budiwiyono, kepada Tempo, Selasa, 19 Februari 2013.

Menurut Eko, dengan keterbukaan dan koordinasi yang baik dengan pengelola fiskal, pengamanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara berlangsung baik. "Dari unsur risiko pasar atau moneter maupun risiko penerimaan fiskal.”

Seperti diketahui, masa jabatan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution usai pada 22 Mei 2013. Sejumlah nama calon penggantinya pun mengemuka jelang pemilihan Gubernur BI.

Selain Darmin, sejumlah nama lain disebut-sebut berpotensi masuk dalam daftar calon yang diajukan Presiden ke DPR. Mereka, antara lain, Hartadi Sarwono dan Halim Alamsyah, yang kini menjabat Deputi Gubernur BI, Fuad Rahmany, yang kini menjabat Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, dan Raden Pardede.

Senada, Direktur Utama Bank Nasional Indonesia Gatot Suwondo mengatakan, ke depan, sosok pemimpin Bank Indonesia harus memiliki latar belakang moneter dan fiskal. "Sebab, tugas perbankan nantinya akan beralih ke Otoritas Jasa Keuangan. BI pada 2014 hanya mengurusi moneter," ujarnya.

Menurut Gatot, kapasitas calon, baik dari internal maupun luar Bank Indonesia, sama baiknya. "Orang-orang BI itu pintar semua. Semua disiapkan sesuai tugasnya selaku regulator. Tapi kalau boleh berpendapat, Pak Darmin sudah cocok (menjadi Gubernur BI)," ujarnya.

Hanya saja, kepemimpinan Darmin Nasution selama ini kurang komplet. Gatot menyarankan agar posisi-posisi kosong bisa diisi. "Pak Darmin kan hanya punya empat deputi, tidak punya deputi gubernur senior," ujarnya. "Tapi secara leadership, background studi, Pak Darmin sudah cocok," ujarnya.

Kemarin, Direktur Utama Bank Danamon Henry Ho menyerahkan kepada pemangku kepentingan mengenai pemilihan gubernur BI yang baru. Yang terpenting, calon gubernur mampu mengelola kebijakan moneter yang baik untuk memastikan perekonomian stabil. "Ini yang perlu dilanjutkan, kepemimpinan dan kebijakan moneter yang baik, serta hubungan dengan perbankan yang kondusif," ujarnya.

AYU PRIMA SANDI

Baca juga

Dewan: Gubernur Jangan Cuma Kelalang-keliling

Menteri Suswono Dicecar KPK Soal Pertemuan Medan

ICW: Suswono Tinggal Menunggu Giliran

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...