Gubernur Edy Panggil Pertamina, Minta Tidak Terjadi Lagi Kelangkaan BBM di Sumut

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Medan Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi memanggil Pertamina terkait kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di sejumlah kabupaten kota beberapa waktu lalu. Edy minta hal tersebut tidak terjadi lagi dan segera lakukan langkah-langkah antisipasi.

"Sudah saya tanyakan kenapa langka, Pertamina berjanji tidak akan terjadi lagi," kata Gubernur Edy usai pertemuan dengan Eksekutif General Manager Pertamina Patra Niaga Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) Asep Wicaksono, di Rumah Dinas Gubernur, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Medan, Kamis (21/10/2021).

Gubernur Edy menyebut, BBM salah satu unsur yang sangat vital bagi kehidupan masyarakat. Apalagi saat ini masih dalam masa pemulihan ekonomi, dan masyarakat perlu beraktivitas, khususnya di sektor ekonomi.

"Hampir setiap kegiatan ekonomi memerlukan BBM. BBM ini penting, jangan langka lagi, hampir setiap kegiatan orang memerlukan BBM, karena vital," kata Edy.

Eksekutif General Manager Pertamina Patra Niaga Sumbagut, Asep Wicaksono mengatakan, pihaknya telah mengamankan stok BBM di Sumut. Asep berjanji, pihaknya akan menyediakan stok BBM sesuai dengan kebutuhan masyarakat Sumut.

"Untuk penambahan stok sesuai dengan kebutuhan masyarakat Sumut, berapapun kebutuhan masyarakat kami penuhi," sebutnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Penyebab Antrean di SPBU

BBM jenis Solar dan Pertalite kosong di salah satu SPBU Jalan Medan-Binjai, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut), beberapa waktu lalu
BBM jenis Solar dan Pertalite kosong di salah satu SPBU Jalan Medan-Binjai, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut), beberapa waktu lalu

Asep menuturkan, antrean yang terjadi di berbagai SPBU di Sumut terjadi lantaran beberapa hal. Misalnya untuk solar, ada kuota terbatas di Sumut. Kini Pertamina telah menambah kuota untuk stok tersebut sejak minggu lalu.

"Sudah kami lihat di lapangan, dan sudah terlihat cair (antrean)," ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, ada permasalahan lain seperti kurangnya stok yang diproduksi hingga akhirnya Pertamina mengimpor produk tersebut. Lantaran mengimpor, mekanisme memerlukan waktu lama.

"Impor tidak seperti beli barang biasa, ada mekanismenya,. Kebetulan di tempat belinya ada antrean luar biasa, kami juga sudah mempelajari hal itu agar tidak terjadi lagi," Asep menandaskan.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel