Gubernur Gorontalo Tolak Beras Luar Daerah, Kenapa?

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Gorontalo - Gubernur Gorontalo Rusli Habibie meminta agar beras dari luar daerah tidak masuk di Provinsi Gorontalo. Hal itu menindaklanjuti temuan Dinas Pertanian perihal beberapa sampel beras dari luar daerah mengandung logam berat.

Menurutnya, bahwa tampilan beras luar daerah kurang baik, ketimbang beras lokal Gorontalo. Tidak hanya dari tampilan saja, dari segi rasanya beras lokal lebih enak rasanya ketika dikonsumsi.

"Saya sudah perintahkan kepada pihak Dinas Pertanian untuk memantau proses masuknya di setiap perbatasan. Jika ada beras yang mencurigakan maka akan dikirim ke BPOM untuk dilakukan pemeriksaan,” kata Rusli Habibie.

Selain adanya pengawasan yang ketat, Gubernur Rusli juga meminta kepada pihak Bulog untuk memprioritaskan beras dari petani lokal untuk dibeli. Beras di Gorontalo menurutnya cukup melimpah dan jika tidak terserap akan berpengaruh terhadap harga jual.

Sementara Kadis Pertanian Muljady D. Mario membenarkan fakta menarik tentang beras luar daerah yang masuk ke Gorontalo. Hasil uji lab sampel beras dari beberapa daerah di Sulsel dan Sulteng tercemar logam berat yakni 0,11 Mg/Kg dari ambang batas 0,05 Mg/Kg.

Pengawasan di Perbatasan

Ilustrasi – Beras Bansos Covid-19. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Ilustrasi – Beras Bansos Covid-19. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

“Jadi masyarakat Gorontalo jangan tertipu dengan penampilan beras yang kecil kemudian berasnya cerah, putih," kata Muljady

"Setelah diperiksa ternyata kandungan logam beratnya cukup tinggi. Jika dikonsumsi terus menerus bisa jadi pemicu kanker,” jelas Muljady.

Menindaklanjuti arahan Gubernur kata Muljady, pihaknya gencar melakukan uji sampel setiap beras yang masuk. Jika beras dari luar daerah kecenderungan terus mengandung logam berat maka akan ditolak.

"Kami sigap di perbatasan mengawasi beras yang masuk, jika tidak layak untuk dikonsumsi maka akan kami pulangkan," tandasnya.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: