Gubernur Jawa Barat tinjau penanganan dampak gempa di Cianjur

Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil pada Senin petang meninjau penanganan dampak gempa bumi di Kabupaten Cianjur, termasuk penanganan korban gempa di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang.

"Banyak bangunan luluh lantak, korban meninggal 56 orang warga Cianjur, dan 700-an lebih warga luka, dan banyak warga terperangkap di tempat kejadian, (jadi) kita asumsikan jumlah korban akan bertambah," katanya.

Ia mengatakan bahwa selain RSUD Sayang, rumah sakit-rumah sakit yang lain juga disiagakan untuk menangani korban gempa.

"Semua RS (rumah sakit) dikondisikan. RSUD kelimpahan pasien, pasti ada kekurangan. RS lain sebagian, karena ini pusatnya tentu mayoritas atensi di sini," kata dia.

Gubernur mengatakan bahwa pemerintah provinsi berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Cianjur dalam menangani dampak gempa bumi dengan magnitudo 5,6 yang berpusat di darat pada kedalaman 10 km sekira 10 km barat daya Cianjur pada Senin siang.

Organisasi perangkat daerah terkait, kata dia, sudah digerakkan untuk menangani bagian-bagian jalan yang longsor dan menghambat pelaksanaan upaya tanggap darurat bencana.

"Saat ini di lapangan alat berat seperti buldozer sudah ada, RS di seputaran Cianjur bergerak. Lalu tim dari RSHS Bandung pasukannya diarahkan ke Cianjur. Minimal tidak boleh ada warga yang tidak tertangani secara medis," kata dia.

TNI dan Polri, menurut dia, juga menggerakkan personel yang berada di desa-desa untuk mendata dampak gempa bumi di wilayah Cianjur, termasuk di bagian wilayah yang susah dijangkau.

Ia mengatakan, petugas Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) dikerahkan untuk mendata kondisi warga di daerah yang terpencil.

"Mari kita berdoa bersama-sama, semoga tidak ada gempa susulan, tidak ada hujan. Semoga bisa kita tangani dengan baik. Dana darurat sudah kami siapkan," kata dia.

Baca juga:
PLN kerahkan ratusan petugas untuk pulihkan listrik Cianjur pasca-gempa
BNPB segera aktifkan posko penanganan bencana pascagempa