Gubernur Kepri klaim belum ada varian Omicron di daerahnya

·Bacaan 3 menit

Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ansar Ahmad mengklaim sampai saat ini belum ada kasus COVID-19 varian Omicron terdeteksi di daerah itu, berdasarkan laporan Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kementerian Kesehatan.

Namun demikian, ia mengaku butuh waktu cukup panjang hingga mencapai 2 bulan untuk memastikan apakah sampel hasil testing yang dikirim ke Litbang Kemenkes itu terkonfirmasi Omicron atau varian lainnya.

"Maka itu, saat ini kita juga sedang mengusulkan agar di Kepri khususnya di BTKL Batam milik Kemenkes juga segera dilengkapi dengan Whole Genome Sequencing (WGS) agar kita cepat mendeteksi hasil PCR, sehingga bisa langsung memastikan yang terkonfirmasi Omicron atau varian lainnya," kata Gubernur Ansar di Tanjungpinang, Rabu.

Ansar menyebut dengan dibukanya Batam sebagai salah satu gerbang kedatangan melalui jalur laut untuk kepulangan Pekerja Migran Indonesia (PMI) oleh pemerintah pusat, maka pihaknya harus mengantisipasi masuknya varian Omicron ke Kepri yang dimulai dari titik masuk (Entry Point).

Baca juga: Satgas: Kasus aktif COVID-19 di Batam merangkak naik

Baca juga: Pemerintah perketat perbatasan laut Batam waspadai hasil tes PCR palsu

Sampai akhir Desember 2021 lebih dari 40 ribu, kata dia, PMI dari Malaysia dan sebagian kecil dari Singapura yang masuk melalui pintu Batam melalui laut.

"Setiap hari PMI yang masuk yang rata-rata 250 orang dilakukan tes antigen dan PCR, karena testing di titik masuk merupakan hal yang sangat penting," ujar Ansar.

Selain itu, Ansar mengutarakan bahwa banyak dari dokumen PMI yang masuk ke Kepri tidak bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya, sehingga perlu dilakukan langkah kerja sama dengan Komjen RI di Malaysia.

"Kadang dengan dokumen PCR negatif, ternyata sampai di tempat kita dites hasilnya positif. Sehingga kita juga bekerja sama dengan Komjen RI di Malaysia untuk memastikan dokumen PCR yang mereka bawa ini benar-benar dokumen yang sah dan negatif dari tempat layanan PCR resmi di sana," ungkapnya.

Baca juga: Capaian vaksinasi remaja di Batam tembus 100 persen sasaran

Baca juga: Satgas COVID-19: Libur akhir tahun bisa picu lonjakan kasus

Mengenai ketersediaan tempat karantina PMI, lanjut dia, sudah dipersiapkan sesuai kebutuhan dan sampai saat ini masih cukup memadai. Saat pemerintah mengubah jangka waktu kewajiban karantina menjadi 10 hari, pihaknya harus menyediakan tempat karantina sebanyak 2.500 sampai 3.000 tempat tidur untuk mengantisipasinya.

"Tapi sekarang masa karantina menjadi 7 hari per, jadi kita dapat menyediakan untuk maksimal 2.000 tempat tidur. Dengan angka tersebut masih memadai dan kita juga sudah menyediakan tempat-tempat karantina terpadu cadangan seperti asrama haji dan Bapelkes," ujarnya.

Ansar juga terus menggesa vaksinasi untuk menghadapi Omicron. Di Kepri, lanjutnya, tingkat vaksinasi warga sudah cukup tinggi, dengan dosis I mencapai 102 persen, dosis II hampir 80 persen.

Sementara vaksinasi anak usia 6 sampai 11 tahun yang baru dilaksanakan selama 2 minggu sudah mencapai hampir 64 persen, usia 12-17 tahun sudah 119 persen dan dosis II sudah 86 persen, serta vaksinasi lansia sudah 87 persen dengan dosis II 67 persen.

Baca juga: Satgas: Kasus aktif COVID-19 di Kepri meningkat jadi 19 orang

Baca juga: Kepulangan PMI menambah deretan kasus baru COVID-19 di Kepri

Baca juga: Satgas COVID-19: DKI-Kepri alami kenaikan kasus dalam sebulan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel