Gubernur NTB Persilahkan KPK Periksa Hartanya

Mataram (ANTARA) - Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGH M Zainul Majdi selaku kandidat pilkada yang tengah berkuasa (incumbent), mempersilahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa harta kekayaannya baik secara administrasi maupun fisik.

"Silahkan, saya siapkan dokumen yang diperlukan (untuk diklarifikasi dan verifikasi), mungkin KPK mau lihat langsung dan gunakan tafsirannya," kata Zainul di Mataram, Selasa, sebelum bertolak ke kediaman pribadinya di Pancor, Kabupaten Lombok Timur, guna menerima kedatangan tim KPK.

Gubernur NTB periode 2008-2013 itu mengaku lupa nilai harta kekayaannya, dan juga tidak bisa memastikan total nilainya.

Bahkan, mengaku belum bisa memastikan peningkatan nilai semenjak menjabat Gubernur NTB, karena saat menyampaikan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) ke KPK beberapa pekan lalu, ia mengacu kepada Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).

"Lupa, jelasnya setelah klarifikasi, mungkin nanti KPK lihat langsung dan gunakan tafsirannya, kalau kita sesuai NJOP. Nantilah, ada peningkatan atau turun, mungkin sekarang turun tapi akan naik lagi," ujarnya sambil berlaku dari kerumunan wartawan.

Zainul sudah tiga kali melaporkan harta kekayaannya kepada KPK, yakni pertama pada 4 Mei 2008 ketika menjadi calon Gubernur NTB periode 2008-2013, kedua pada 26 Juli 2010 ketika dalam kapasitas sebagai penyelenggara negara diminta melaporkan harta kekayaannya secara langsung di hadapan publik kepada KPK.

Pada laporan pertama, harta kekayaan Zainul yang diklaim sebagai harta kekayaan bersama istrinya, termasuk hibah dari orangtua, sebesar Rp4,33 miliar lebih.

Laporan kedua, harta kekayaan Zainul sebanyak Rp5,52 miliar lebih, sehingga terjadi peningkatan lebih dari satu miliar rupiah.


Kini, diperkirakan bertambah karena telah memangku jabatan Gubernur NTB selama hampir lima tahun.

Zainul merupakan salah satu dari delapan kandidat Cagub/Cawagub NTB yang ditemui tim KPK di kediamannya masing-masing untuk klarifikasi dan verifikasi LHKPN.

Klarifikasi dan verifikasi LHKPN itu berlangsung selama tiga hari yakni 15-17 April 2013, yang diawali di kediaman Cagub NTB Harun Al Rasyid, Senin (15/4) pukul 09.00-12.00 WIB, di Jalan Hang Jebat II Nomor 25 RT 003/08, Kelurahan Gunung Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.


Selanjutnya klarifikasi dan verifikasi untuk Abdul Muhyi Abidin (cawagub) di kediamannya di Perumahan Panji Tilar Regency A-2, Kelurahan Kekalik Jaya, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, pada Selasa (16/4) pukul 08.00-12.00 Wita.

Pada hari kedua dan jam yang sama, juga dilakukan klarifikasi dan verifikasi untuk untuk Prof DR Muhammad Ichsan (cawagub) dan Suryadi Jaya Purnama (cagub).

Untuk Ichsan dilakukan di kediamannya di Jalan Pemuda Nomor 56 D, RW39, Kelurahan Dasan Agung Baru, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Untuk Suryadi di kediamannya Jalan Jangkok Nomor 17 BTN Kekalik RT/RW 5/05, Kelurahan Pagesangan, Kota Mataram.

LHKPN tiga kandidat lainnya juga diklarifikasi dan verifikasi pada hari kedua itu namun pada pukul 13.00-17.00 WITA, yakni TGH M Zainul Majdi (Cagub), Muhammad Amin SH (Cawagub), dan Johan Rosihan (cawagub).

Untuk Zainul dilakukan di kediamannya di Jalan PB Sudirman Nomor 18, RT/RW 46, Kelurahan Pancor, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur. Untuk Amin di kediamannya Jalan Kiwi Nomor 2, Pajang Timur, Kota Mataram. Untuk Johan di kediamannya Jalan Kertanegara IV/12 Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram.

Pada hari ketiga, klarifikasi dan verifikasi LHKPN hanya untuk DR Zulkifli Muhadli (cagub) yang dijadwalkan 17 April 2013 pukul 08.00-12.00 WITA, di kediamannya di Jalan D Paniai Nomor 3 Pagutan, RT 008, Kelurahan Pagutan, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram.

Delapan kandidat Cagub/Cawagub NTB itu terdiri dari empat pasangan calon yang akan bertarung pada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB periode 2013-2018, pada 15 Mei 2013.

Keempat pasangan calon itu diusung oleh gabungan partai politik, yakni Harun Al Rasyid dan TGH Lalu Muhyi Abidin (Harum), DR KH Zulkifli Muhadli dan Prof DR H Muhammad Ichsan (Zul-Ichsan), TGH M Zainul Majdi dan H Muhammad Amin (TGB-Amin), H Suryadi Jaya Purnama dan Johan Rosihan "Suryadi-Johan".(rr)




Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.