Gubernur Ridwan Kamil pilih makan siang di pasar tradisional

Adi Lazuardi

Gubernur Jawa Barat (Jabar) M Ridwan Kamil atau Emil, Kamis siang, memilih makan siang di pasar tradisional Cihapit, Bandung,
usai menghadiri acara penganugerahan gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) M Basuki Hadimuljono di Aula Barat Kampus ITB, Kota Bandung, Kamis.

Setibanya di Pasar Cihapit, Gubernur Emil berjalan mengusuri lorong pasar dengan tujuan Warung Nasi Bu Eha.

Warung Nasi Bu Eha merupakan salah satu tempat kuliner legendaris yang ada di Kota Bandung.

Sambil duduk di salah satu meja di Warung Nasi Bu Eha, Gubernur Emil memesan pepes usus, sambal dan lalapan sebagai menu makan siangnya, plus nasi merah.

"Warung Nasi Ma Eha mah, sebelum ibu saya menikah sudah ada, terus ketemu bapak dan menikah, lalu saya anaknya dari sebelum wali kota, jadi wali kota sampai gubernur Ma Ehanya masih ada. Jadi saya sering makan di sini," katanya.

Warung Nasi Bu Eha menyajikan berbagai makanan yang memanjakan lidah namun di tempat ini Emil juga mengaku betah mengingat Pasar Cihapit sudah berubah banyak sejak Program Pasar Juara digulirkan Pemprov Jabar

Pasar yang lokasinya dekat kantor polisi dan Gedung PN Bandung ini, selain jadi lokasi berbelanja ikan dan sayur mayur segar namun juga ada kios yang bisa menjadi tempat nongkrong baru.

Seperti kios kopi, jajanan ala kafe hingga tempat kursus musik dan di pojokan pasar malah ada pojok baca buat anak-anak warga dekat pasar.

"Memang salah satu target kepemimpinan kami adalah menjadikan pasar sebagai tempat yang disukai oleh kelompok menengah atas, selama ini pasar tradisional hanya didatangi menengah bawah," tuturnya.

Menurut Emil Program Pasar Juara lahir setelah pihaknya melakukan survei kalangan menengah ke atas ingin seperti mal minimal kebersihan dan suasananya.

"Sehingga diundanglah tim kreatif oleh Dinas Indag Jabar ini supaya mengkonversi dari pasar yang citranya kotor semrawut menjadi unik, bersih, penuh kegiatan," katanya.

Pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar, Emil menitipkan 30 persen aktivitas pasar tidak hanya datang dari transaksi sembako namun ada kegiatan seperti bazaar dan hal-hal yang lain.

"Jadi pada dasarnya pasar tempat berkumpul selain tempat berdagang oasar itu bsrkumpul. Dan berkumpul tidak harus selalu ada transaksi tapi membuat tempat ini menjadi ramai,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar M Arifin Soendjayana mengatakan permintaan Gubernur Jabar agar pihaknya mendorong pasar menjadi bagian dari rantai pariwisata akan ditindaklanjuti.

"Sehingga tak hanya revitalisasi pasar secara fisik lewat program Pasar Juara, tapi harus memiliki spot dan aktifitas yang menarik," katanya.

Arifin menuturkan rencana ini akan diadaptasikan ke dalam revitalisasi pasar gelombang kedua tahun 2020 ini dan tahun lalu, Indag sukses merevitalisasi tujuh pasar rakyat di tujuh daerah, seperti Pasar Manis Ciamis, Pasar Langensari Banjar hingga Pasar Baleendah Bandung.

Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Jabar Eem Sujaemah mengatakan konsep pasar wisata bisa dilakukan dengan memberdayakan potensi dan unggulan di setiap pasar.

"Kita juga mendorong bimtek pasar SNI, sekarang baru dua di Sukatani, Depok dan Gunung Sari, Cirebon. 2020 ada 20 pasar yang akan bersertifikat SNI," ujarnya.

Menurut dia, memenuhi standar SNI, pengelola pasar harus memenuhi 45 indikator seperti penempatan sayur mayur yang terpisah dari ikan dan daging hingga kebersihan, kenyamanan dan kelengkapan fasilitas umum lainnya.