Gubernur Sultra: Peran tokoh agama besar cegah dampak hoaks di medsos

Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi mengatakan peran tokoh agama sangat besar dalam mencegah dampak berita hoaks atau bohong serta ujaran kebencian di media sosial sehingga tetap terjaga persatuan dan kerukunan umat beragama.

"Disadari bersama bahwa tantangan kehidupan beragama kian hari kian berat, kehadiran media sosial dalam mewarnai kehidupan beragama dewasa ini, tidak bisa diabaikan," kata Gubernur pada Rapat Koordinasi Daerah Forum Kerukunan Umat Beragama Sulawesi Tenggara, di Kendari, Rabu.

Menurut Gubernur, dibutuhkan figur tokoh-tokoh agama yang mempersatukan, merangkul, serta piawai melunakkan perbedaan pilihan dan paham menjadi kekuatan sehingga umat tidak terjebak pada pandangan-pandangan yang ekstrem dan melegalkan kekerasan.

"Tidak jarang, media sosial membawa toksik, membawa racun seperti berita hoaks dan ujaran-ujaran kebencian yang justru menimbulkan perpecahan," ujar Gubernur.

Baca juga: Wamenkumham: Literasi keagamaan lintas budaya cocok untuk Indonesia

Baca juga: Jaksel minta dukungan pemuka agama wujudkan kerukunan antar umat

Ali Mazi menilai, Forum Kerukunan Umat Beragama hendaknya menjadi tenda bangsa yang mengayomi semua umat beragama dari beragam kelompok. Komitmen ini harus tertanam kuat dalam kesadaran para tokoh dan aktivis Forum Kerukunan Umat Beragama di semua tingkatan.

Kemajemukan agama dan keyakinan yang ada di Indonesia, lanjut Gubernur, pada hakekatnya merupakan aset yang sangat berharga bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Terwujudnya umat beragama yang hidup rukun merupakan harapan seluruh masyarakat Indonesia yang plural sehingga patut terus dijaga.

"Keragaman perlu disyukuri, keragaman tidak diminta, melainkan pemberian Tuhan, bukan untuk ditawar tapi untuk diterima. Di tengah keberagaman, Indonesia masih berdiri kokoh, bersatu terus bergerak maju, mengejar negara-negara lainnya di dunia, yang lebih dulu maju," ujar dia.

Menurutnya, moderasi beragama merupakan pilihan yang tepat dan selaras dengan jiwa pancasila di tengah adanya gelombang ekstremisme di berbagai belahan dunia, demi terciptanya toleransi dan kerukunan baik di tingkat lokal, nasional, maupun global.

Baca juga: Menkumham: Indonesia dapat apresiasi internasional dalam hal kerukunan

Baca juga: Kanwil Kemenag Sulbar minta masyarakat jaga kerukunan

Ali Mazi menyebut, moderasi dapat diukur dalam empat indikator diantaranya toleransi, antikekerasan, komitmen kebangsaan, serta pemahaman dan perilaku beragama yang akomodatif terhadap budaya lokal atau konteks Indonesia yang multi-kultural dan multi-Agama.

“Keempat indikator tersebut harus selalu dijaga dan dilaksanakan oleh seluruh elemen masyarakat sebagai upaya menciptakan kerukunan berbangsa dan bernegara yang berkelanjutan,” ujar Gubernur.

Ali Mazi mengaku mendukung bahwa keharmonisan antarumat beragama dan internal umat agama adalah tujuan utama dari kerukunan beragama, demi tercipta masyarakat yang bebas dari ancaman kekerasan dan konflik agama.

“Terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kerja para penggerak dan aktivis kerukunan umat beragama dalam merawat kerukunan dan toleransi di masyarakat, terutama di level akar rumput," kata Ali Mazi.

Baca juga: Wagub Jambi minta FKUB terus jaga kerukunan beragama
Baca juga: Menkumham: Pancasila cara Indonesia jaga kerukunan antarumat beragama