Gula dan Pemanis Buatan, Mana yang Lebih Berbahaya?

Lazuardhi Utama, Novina Putri Bestari
·Bacaan 1 menit

VIVA – Sebuah penelitian menemukan jika gula dan pemanis buatan ternyata sama-sama berbahaya. Sebab, keduanya mampu meningkatkan risiko penyakit jantung. Sejumlah manufaktur makanan sedang memfokuskan mengganti keduanya agar produknya lebih sehat.

Produk-produk itu menjanjikan level yang sama dari manis gula biasanya namun menggunakan kuantitas yang lebih kecil. Namun, sejumlah peneliti menemukan jika kedua jenis pemanis itu sama-sama berbahaya bagi jantung. Temuan ini dipublikasikan dalam Journal of the American College of Cardiology.

Baca: 3 Manfaat Tak Terduga Gula

Melansir laman Metro, Kamis, 29 Oktober 2020, salah satu penelitian meminta partisipan untuk mengisi log diet 24 jam selama enam bulan. Peneliti memisahkan minuman dengan gula dan pemanis non-nutrisi.

Pemanis non-nutrisi merupakan produk yang menggunakan makanan pemanis, namun menambahkan bahan no-kalori seperti aspartam, suklarosa atau Stevia, yani pemanis alami. Sedangkan, untuk minuman manis, peneliti menambahkan apapun dengan lebih dari lima persen gula, termasuk jus buah dan minuman bersoda.

Para peneliti berusaha untuk berhati-hari menghilangkan faktor yang membingungkan. Namun mereka juga menekankan tidak dapat mengesampingkan soal kausalitas terbalik di mana pemanis buatan tidak membuat penyakit jantung.

Partisipan dibagi menjadi non-konsumen, konsumen rendah, dan konsumen tinggi untuk minuman bersoda. Setiap kelompok masuk dalam gula dan pemanis buatan. Setelahnya tim peneliti melihat penyebab dari penyakit kardiovaskular, yakni karena konsumsi tinggi dari minuman manis, baik gula atau pemanis buatan. Hasilnya memiliki risiko tinggi pada penyakit jantung, baik pada kelompok konsumen rendah dan tidak.