Gula Darah Diabetes Turun, Bolehkah Makan-makanan Manis?

Lutfi Dwi Puji Astuti, Sumiyati
·Bacaan 1 menit

VIVA – Banyak anggapan keliru yang beredar di masyarakat, bahwa orang yang menderita diabetes, jika sudah mengonsumsi obat maka bisa dengan bebas mengonsumsi makanan manis, karena gula darahnya sudah turun. Padahal, tidak demikian.

Dokter spesialis penyakit dalam RSCM FKUI, Dr. dr. Dyah Purnamasari, Sp.PD, KEMD, menjelaskan, padahal populasi umum yang tidak diabetes pun jika mengonsumsi makanan atau minuman yang tinggi sukrosa atau tinggi gula, itu cukup membebani pankreas.

"Jadi, kalau keseringan kita minum-minuman itu, meskipun gak ada riwayat keluarga diabetes, itu memudahkan kita untuk gemuk, mengalami gangguan hormon insulin, ujung-ujungnya diabetes juga, meskipun gak ada riwayat keluarga diabetes," ujarnya saat Media Breafing #Hands4Diabetes, belum lama ini.

Begitu pun dengan pasien diabetes. Dokter Dyah bercerita, biasanya pasien-pasiennya akan diedukasi untuk mengganti makanan atau minuman manis yang dikonsumsi.

"Beberapa pasien sharing pengalaman juga, mengganti gulanya dengan yang rendah kalori. Tapi intinya adalah, mereka tetap boleh mengonsumsi (makanan minuman manis) tapi terbatas. Karena memang pada diet diabetes itu ada pakem-pakem yang harus diikuti untuk keterbatasan sukrosanya," lanjut dia.

Dyah menjelaskan, sebenarnya ada obat diabetes yang cukup baik dalam menurunkan gula darah. Tapi, jika pasien tidak bisa mengontrol asupan makanannya, maka gula darahnya tetap tidak akan terkontrol. Lalu, apa akibatnya?

"Sehingga dokter akan menaikkan dosisnya. Padahal, obat-obatan tertentu dengan menaikkan dosis, risiko kenaikan berat badan pasien akan semakin tinggi," kata dia.

Nah, kenaikan berat badan pasien diabetes, akibat kombinasi konsumsi makanan manis berlebih dan efek samping konsumsi obat, akan membuat berat badan semakin meningkat.

"Nah, jadi bukan berarti kalau sudah minum obat, sudah suntik insulin, makannya bebas. Tetap harus diatur, supaya terkontrol dan berat badannya tidak naik," tutup dokter Dyah Purnamasari.