Gunung Es Raksasa di Antartika Pecah

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVAGunung es raksasa, yang ukurannya lebih besar dari kota New York Amerika Serikat (AS), pecah dan terpisah dari lapisan es di Antartika. Gunung es seluas 490 mil persegi itu memisahkan diri dari Brunt Ice Shelf setelah para ilmuwan mulai mendeteksi retakan di es sekitar satu dekade yang lalu.

"Tim kami di British Antarctic Survey (BAS) telah dipersiapkan untuk kelahiran gunung es dari Brunt Ice Shelf selama bertahun-tahun," kata Direktur BAS, Dame Jane Francis, seperti dilansir dari laman Fox News, Selasa, 2 Maret 2021.

Baca: Ditemukan Makhluk Aneh Bisa Bertahan 900 Meter di Bawah Antartika

Indikasi pertama bahwa gunung es raksasa itu akan pecah terjadi pada November 2020, ketika jurang baru atau North Rift mengarah ke jurang besar yang jaraknya sekitar 20 mil.

Pada Januari 2021, celah tersebut mendorong gunung es ke timur laut dengan kecepatan lebih dari setengah mil setiap harinya dan memotong lapisan es hingga mengapung setebal 490 kaki. Gunung es terbentuk setelah retakan melebar di pagi hari pada 26 Februari 2021.

Francis dan tim terus memantau lapisan es setiap hari menggunakan GPS presisi tinggi yang mengelilingi Halley Research Station, mengukur bagaimana lapisan es berubah bentuk dan bergerak. Tim juga menggunakan citra satelit dari European Space Agency (ESA), Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA), dan Satelit Jerman TerraSAR-X.

"Stasiun Halley terletak di pedalaman semua jurang yang aktif di bagian lapisan es yang tetap terhubung ke benua. Jaringan instrumen GPS kami akan memberi peringatan dini jika pembentukan gunung es ini menyebabkan perubahan es di sekitar stasiun kami," jelasnya.

Francis menambahkan jika dalam beberapa minggu atau bulan mendatang, gunung es raksasa ini mungkin menjauh dan tetap dekat dengan Brunt Ice Shelf.

"Tugas kami sekarang adalah mengawasi situasi dan menilai setiap dampak potensial. Kami terus meninjau rencana kontinjensi untuk memastikan keamanan seluruh staf dan stasiun penelitian kami," ujar Direktur Operasional BAS, Simon Garrod.

Baik Francis maupun Garrod bersama para peneliti mengatakan bahwa tidak ada bukti bahwa perubahan iklim memainkan peran penting dalam peristiwa tersebut. Perubahan es di Halley adalah proses alami dan tidak ada kaitannya dengan peristiwa melahirkan seperti di Larsen C Ice Shelf, Antartika.