Gunung Gandang Dewata Dipenuhi Mitos

TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR - Hilangnya lima pendaki di Gunung Gandang Dewata, adalah insiden kedua dalam tujuh tahun terakhir.  

April 2007, perwira senior POM Kodam VII/Wirabuana Mayor (POM) Latang, serta dua pegawai sipil Abdul Azis dan A Rifai, juga dilaporkan hilang, dan hingga kini belum diketahui rimbanya.

Warga setempat menyebutkan, Gendang Dewata dipenuhi mitos. Jika terdengar suara gendang dari puncak gunung, berarti orang tersebut sudah hilang dan meninggal.

Di Sulsel, awal Januari lalu, sebanyak 15 pendaki dari Mapala Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan Makassar dilaporkan hilang, sebelum ditemukan di Gunung Bawakaraeng, Kecamatan Tinggimoncong, Gowa.

Dari Polewali, dilaporkan 50 pendaki dari mapala dan kelompok pecinta alam (KPA) dari Makassar dan Sulbar, sejak akhir pekan lalu mulai melakukan pencarian. Empat tim besar dari mapala dan KPA turun melakukan pencarian di kawasan Gunung Ganda Dewata.

"Kami ada empat kelompok besar, dari jalur Mamasa, jalur Mamuju, dan Kalumpang (Majene)," kata Koordinator Posko Pencairan di Kampus Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) Kasmir Kele di Polewali Mandar, kemarin.

"Tim pencari dari mapala dan KPA berpencar melakukan pencarian, ada yang dari jalur Mamasa dan ada juga dari jalur Mamuju," jelasnya.

Kontak terakhir dengan lima mahasiswa yang hilang terjadi pada Jumat (25/1/2013), saat mereka di pos 4.

Gandang Dewata (3.037 meter di atas permukaan laut) adalah gunung tertingi kedua di gugusan pegunungan Quarles Sulawesi. Quarles merupakan gugusan gunung batu berhutan tropis, yang membentang di tengah Pulau Sulawesi dari tengah, tenggara, barat, dan selatan Sulawesi.

Gunung ini masuk dalam wilayah administrasi tiga kabupaten di Sulbar, Mamasa, Mamuju, dan Majene (Sulbar). (*)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.