Update Gunung Merapi, BPPTKG: Selama Sepekan Kegempaan Meningkat

Dusep Malik, Cahyo Edi (Yogyakarta)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta merilis laporan aktivitas Gunung Merapi sejak 6 November hingga 12 November 2020.

Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida, mengatakan selama sepekan cuaca di Gunung Merapi pada pagi hari umumnya cerah, sedangkan siang hingga malam berkabut. Selama sepekan itu pula pada 8 November 2020 sekitar pukul 14.50 WIB teramati dari pos pengamatan Selo asap berwarna putih dengan ketinggian maksimal 250 meter.

"Pada 8 November 2020 pukul 12.57 WIB, guguran teramati dari Pos Pengamatan Babadan dengan jarak luncur maksimal 3 kilometer. Guguran ini mengarah ke Kali Sat," ujar Hanik, dalam keterangan tertulisnya, pada Jumat, 13 November 2020.

Hanik menjabarkan jika BPPTKG Yogyakarta juga melakukan pengamatan pada kubah lava Gunung Merapi. Dari pengamatan diketahui volume kubah lava per 3 November 2020, sebesar 200.000 meter kubik.

Hanik menjabarkan bahwa selama sepekan ini, Gunung Merapi memiliki intensitas kegempaan yang lebih tinggi dibandingkan seminggu yang lalu.

Hanik merinci, pada pekan ini Gunung Merapi mengalami 244 kali gempa vulkanik dangkal (VTB), 2.189 gempa fase banyak (MP), 9 kali gempa low frekuensi (LF), 385 kali gempa guguran (RF), 403 kali gempa hembusan (DG) dan 6 kali gempa tektonik (TT).

"Sementara untuk deformasi (penggembungan badan) Merapi yang dipantau dengan EDM menunjukkan adanya laju pemendekan jarak sebesar 10 cm/hari dari reflektor RB1 dan RB2," ungkap Hanik.

Hanik menjabarkan bahwa potensi bahaya saat ini berupa guguran lava, lontaran material vulkanik. Hanik menyebut apabila terjadi letusan Gunung Merapi secara eksplosif dan awan panas potensi bahaya sejauh maksimal 5 kilometer dari puncak.

Hanik menuturkan terkait situasi Gunung Merapi saat ini, BPPTKG merekomendasikan agar penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) III direkomendasikan untuk dihentikan.

"Pelaku wisata agar tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III Gunung Merapi, termasuk kegiatan pendakian ke puncak Gunung Merapi. Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi," ujar Hanik. (ase)