Gunungan Sampah di TPST Bantargebang Capai Ketinggian Maksimal, Longsor Hantui Warga dan Pemulung

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kondisi sampah di TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, nyaris kelebihan kapasitas. Saat ini gunungan sampah milik Pemprov DKI Jakarta itu disebutkan sudah mencapai lebih dari empat puluh meter, dari ketinggian maksimal lima puluh meter.

Meski demikian, puluhan alat berat masih dioperasikan pekerja untuk menata sampah-sampah yang terus berdatangan. Sejumlah pemulung juga masih tetap beraktivitas seperti biasa, tanpa khawatir bahaya longsor yang mengancam keselamatan.

Warga sekitar menuturkan, terbatasnya lahan di TPST Bantargebang menjadi penyebab sampah semakin menggunung sehingga nyaris overload. Kondisi ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun tanpa adanya penambahan lahan.

"Belum ada pembukaan lahan (baru), karena kan ini nggak ada lahan lagi, jadi (sampah) ya dibuang ke atas terus," kata Nur Hidayat, warga sekitar, Kamis (16/9/2021).

Nur yang tinggal di sekitaran TPST, merasa khawatir dengan ancaman longsor yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Namun ia mengaku tak bisa berbuat banyak, karena tak memiliki tempat tinggal lain yang lebih aman.

"Ya mau gimana lagi, wong keadaannya begitu," ujarnya.

Kepala Satuan Pelaksana TPST Bantargebang Unit Pengelolaan Sampah Terpadu (UPST) DKI Jakarta, Handoko Raitno, saat dikonfirmasi mengatakan kondisi sampah yang nyaris overload disebabkan keterbatasan lahan.

Ia berujar, dalam sehari ada sekitar 7.000-7.500 ton sampah milik warga DKI Jakarta yang dibuang ke TPST Bantargebang. Seluruh sampah berasal dari lima wilayah, yaitu Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, termasuk Kepulauan Seribu.

"Kita ada empat zona. Kalau berdasarkan kajian di tahun 2019, ketinggian maksimal itu kurang lebih 50 meter. Itu 2019, sekarang 2021 memang. Kemungkinan ketinggian yang 50 meter itu, ya sudah over lah, atau sudah terlampaui," ucap Handoko.

Pembuatan Terasering Sampah

Terkait hal ini, pihaknya terus berupaya mengendalikan gunungan sampah dengan melakukan perapihan untuk setiap zona setiap harinya. Diantaranya pembuatan terasering atau undukan untuk menghindari terjadinya longsor.

Solusi lainnya, kata dia, juga dilakukan Pemprov DKI Jakarta dengan membangun Fasilitas Pengolahan Sampah Antara (FPSA) atau Intermediate Treatment Facility (ITF), yang dapat mengolah sampah hingga 2.000 ton per hari.

"Jadi langkah itu yang kita terapkan sembari menunggu dibangunnya ITF di Jakarta. Rencana kalau tidak salah ada tiga sampai empat titik. Tapi yang sudah diklaim itu di Sunter," paparnya.

Dan untuk mengantisipasi keselamatan pemulung di sekitaran TPST, Handoko menegaskan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Ikatan Pemulung Indonesia (IPI). Pemulung diimbau untuk menjaga jarak dari alat berat yang sedang beroperasi.

"Kita tetap khawatir terjadinya pergeseran, jadi kami koordinasi hal-hal apa yang setidaknya tidak membahayakan teman-teman pemulung. Salah satunya jaga jarak. Hindari daerah-daerah yang sekiranya rawan bahaya, contohnya dorongan-dorongan sampah yang setelah ditempatkan di permukaan itu, mereka harus hindari, jangan di sekitar itu lah," tandasnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel