Guru Besar FKUI raih penghargaan Bossscha medal Leiden-Delft-Erasmus

Guru Besar Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. Dra. Taniawati Supali mendapatkan penghargaan Bosscha Medal dari Leiden-Delft-Erasmus (LDE) Universities atas sumbangsih yang luar biasa terhadap ilmu pengetahuan, pemberdayaan masyarakat, kolaborasi internasional, dan knowledge sharing.

Penghargaan diberikan langsung oleh Dekan Leiden-Delft-Erasmus Universities Prof. Dr. Wim van den Doel.

"Saya sangat mengapresiasi Prof. Dr. Wim van den Doel yang telah memilih saya untuk menerima penghargaan ini. Penghargaan ini tentu saja menjadi simbol long-lasting collaboration antara tim saya dari dari FKUI dan Prof. dr. Maria Yazdanbakhsh dari LUMC," kata Prof. Taniawati dalam keterangannya, Selasa.

Penghargaan diberikan pada acara pembukaan BRIN-LDE Academy yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama Universitas Leiden-Delft-Erasmus (BRIN-LDE Academy) di Serpong, Tangerang Selatan.

Baca juga: Wamenkes Dante resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap FKUI

Baca juga: Guru Besar FKUI: Vaksinasi "booster" diperlukan walau kasus melandai

Tahun ini, LDE secara perdana memberikan penghargaan Medali Bosscha untuk para peneliti yang diusulkan oleh profesor dari masing-masing universitas. Pengusul Prof Taniawati dalam penghargaan ini adalah Prof. Maria Yazdanbaksh dari Leiden University Medical Centre (LUMC).

Prof. Taniawati menyampaikan rasa senang dan bangga bahwa kerja sama yang telah terjalin selama lebih dari 30 tahun dengan Prof. dr. Maria Yazdanbakhsh dari LUMC mendapatkan apresiasi.

"Terakhir saya ambil kutipan dari Helen Keller yang berbunyi ‘Alone we can do so little, together we can do so much’. Kerja sama ini dapat terlaksana karena adanya kontribusi dari banyak orang, baik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia maupun dari Leiden University Medical Center. Terima kasih untuk itu semua," ujar Prof. Tania.

Prof. Taniawati merupakan guru besar Parasitologi FKUI yang memiliki kepakaran di bidang filariasis dan kecacingan. Dari beberapa riset yang telah dilakukan, Prof. Taniawati berhasil meraih berbagai penghargaan atas program penelitian dan usahanya dalam mengurangi angka penyakit filariasis (kaki gajah) di Indonesia, salah satunya dari Bill Melinda Gate Foundation (BMGF).

Di tingkat nasional, Prof. Taniawati adalah anggota Gugus Tugas untuk Program Filariasis Limfatik yang berafiliasi dengan World Health Organization (WHO).

Melalui kapasitas ilmiahnya, Prof. Taniawati telah melakukan riset-riset lainnya, seperti penelitian perubahan pola penyakit dari penyakit menular (eliminasi penyakit cacingan, filariasis, malaria) ke penyakit tidak menular yang sekarang ini sedang dialami banyak negara termasuk Indonesia.

Selain itu, beliau juga mampu mengumpulkan data-data ilmiah mengenai beberapa kelompok penyakit dari populasi terabaikan sebagai bentuk kontribusi terhadap kemajuan kesehatan masyarakat di kawasan terpencil di Indonesia.

Kemitraan antara FKUI dan LUMC telah dimulai sejak tahun 1989. Saat itu, Prof. Dr. Dra. Taniawati Supali dan Prof. dr. Maria Yazdanbakhsh (Guru Besar LUMC sekaligus Ajunct Profesor FKUI) melakukan kerjasama penelitian untuk pertama kalinya di daerah Sumatera.

Kemitraan ini menghasilkan banyak penelitian di berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, kemitraan antara FKUI dan LUMC juga semakin meluas dengan adanya program pertukaran mahasiswa antar kedua institusi.

Dekan FKUI Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam mengatakan saya mewakili keluarga besar FKUI mengucapkan selamat kepada Prof. Taniawati Supali atas penghargaan Boscha Medal yang berhasil diraih.

Pencapaian ini tentu saja melengkapi sejumlah penghargaan yang berhasil beliau terima atas dedikasi dan pengabdiannya di bidang riset penyakit akibat parasit, khususnya kaki gajah di Indonesia. Saya berharap prestasi ini dapat menginspirasi seluruh sivitas FKUI untuk terus memberikan dampak positif bagi kemajuan kesehatan Indonesia dan dunia.*

Baca juga: Loboratorium mikrobiologi klinik FKUI raih akreditasi ISO 15189

Baca juga: Guru Besar FKUI jawab soal kemungkinan kerongkongan bergeser