Guru Besar: Jateng butuh pertumbuhan ekonomi untuk serap tenaga kerja

Guru Besar Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Diponegoro FX Sugiyanto menyebut pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah perlu diarahkan agar menyerap lebih banyak tenaga kerja.

Pasalnya dalam 10 tahun terakhir, setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah hanya meningkatkan penciptaan lapangan kerja sebesar 0,23 persen.

"Misalnya ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5 persen, lapangan kerja Jawa Tengah hanya tumbuh lima kali 0,23 persen. Pertumbuhannya lebih lambat," katanya dalam webinar "Strategi Menjaga Inflasi dan Ketahanan Ekonomi Daerah 2023" yang dipantau di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Disnakertrans Jateng imbau masyarakat waspadai penipuan kerja Kamboja

Ia menyebutkan ekonomi Jawa Tengah yang rata-rata tumbuh di atas 5 persen setiap tahun menunjukkan kondisi perekonomian yang stabil dan kuat, tetapi persoalan kelembagaan yang menyebabkan suatu kebijakan sulit ditetapkan sampai ke level terbawah perlu dibenahi.

"Jadi kebijakan di atas sudah benar, tapi saat dipraktikkan masih gagap," katanya.

Ia juga menyebutkan, untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerintah Jawa Tengah perlu memastikan nilai inflasi terjaga, antara lain dengan mengoptimalkan peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk mengamankan pasokan pangan.

Selain itu, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Tengah juga perlu didorong untuk naik kelas karena berkontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah.

"Terbukti di resesi 2020 ketika pandemi mulai di Maret, 90 persen UMKM di Jawa Tengah masih bertahan, tapi 40 persen di antaranya mengalami penurunan omset. Ini kekuatan ekonomi Indonesia, termasuk Jawa Tengah yang perlu didorong tumbuh," ucapnya.

Baca juga: Jateng berupaya siapkan tenaga kerja berkompeten