Guru Besar Unhas Ingatkan KAHMI Harus Menjaga Ikatan Kebangsaan Agar Kokoh

Merdeka.com - Merdeka.com - Guru Besar Ekonomi Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Imam Muhahidin Fahmid berpesan kepada seluruh alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). Salah satunya tentang menjaga agar ikatan kebangsaan Indonesia tetap kokoh.

KAHMI dinilai ikut bertanggung jawab menjaga dan memperkuat rajut kebangsaan. Sebab, anggota KAHMI tersebar di seluruh Indonesia.

"Kita sebagai alumni HMI harus bisa memastikan KAHMI bisa menjahit keberagaman bangsa yang berwarna-warni, agar menjadi baju kebangsaan yang enak dilihat, enak dipandang, dan enak dipakai," ujar Prof Imam Muhahidin Fahmid, Jumat (4/11).

Pandangan tersebut disampaikan Prof Imam sebagai salah satu bakal calon Presidium Nasional dalam Musyawarah Nasional KAHMI. Adapun Munas akan digelar di Palu, Sulawesi Tengah, pada 24-28 November 2022.

Perbedaan merupakan keniscayaan bagi bangsa ini. Karenanya, sikap toleran menjadi penting untuk memastikan segenap langkah anak bangsa bisa senada dan seirama dalam mencapai cita-cita kemajuan dan kesejahteraan. Pandemi Covid-19, menurut Prof Imam, memberi pelajaran penting bahwa persatuan dan kebersamaan menjadi kunci dalam menyelesaikan krisis dan persoalan.

Di sisi lain, KAHMI memiliki kekuatan dan potensi besar untuk turut berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan dan kesulitan bangsa. Seperti kemiskinan dan imbas resesi global, termasuk ambil bagian untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.

"Dengan kata lain KAHMI akan menjadi pemersatu kebangsaan dan keislaman. Dengan pondasi itu kita harapkan Indonesia menjadi bangsa yang memiliki perbedaan, tetapi dengan perbedaan itu bisa punya energi untuk membangun harapan pada masa depan dan bisa kita tularkan kepada negeri yang lain," urai Prof Imam.

Presiden Joko Widodo saat menerima perwakilan KAHMI pada akhir September lalu meminta agar KAHMI turut serta membantu bangsa. Sebab, situasi global membuat dunia tidak dalam kondisi baik.

Dukungan semua komponen bangsa supaya Indonesia tidak masuk dalam situasi krisis sangat diperlukan. Menurut Prof Imam, permintaan Presiden Jokowi itu menjadi tantangan yang harus dijawab oleh KAHMI.

"KAHMI dengan anggota yang tersebar di berbagai bidang, punya potensi untuk bisa berkontribusi bagi bangsa ini, dengan gagasan, pengetahuan, dan praktik yang memberi nilai positif," ujarnya. [rnd]