Gus Kautsar: Menyelimuti Anak saat Tidur Itu Jihad Teristimewa

Bayu Nugraha, Nur Faishal (Surabaya)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Insiden bom Makassar dan teror yang menyasar Markas Besar Kepolisian RI (Mabes Polri) sepekan ini menyesakkan banyak pihak. Apalagi dua wanita yang terlibat dalam serangan itu masih kategori generasi milenial. Ada dugaan keduanya terdoktrin dengan mudah oleh pemahaman yang salah tentang makna jihad.

Pemahaman sempit tentang jihad disesalkan banyak pihak. Di antaranya oleh kiai muda dari Pesantren Al Falah Ploso, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, KH Abdurrahman Al-Kautsar alias Gus Kautsar. "Entah mulai kapan, arti jihad itu kemudian disempitkan menjadi satu arti hanya memiliki makna perang," katanya pada Kamis, 1 April 2021.

Gus Kautsar juga heran ada kelompok yang berpandangan bahwa jihad dalam arti sempit itu adalah satu-satunya ibadah yang diterima oleh Allah SWT. "Padahal praktik jihad banyak sekali. Apalagi kaya kita, harus berjihad tetapi praktiknya jihad yang bagaimana. Ya, kita jihadnya ngaji, lawong kita santri,” tandasnya.

Gus Kautsar lantas menceritakan obrolan sahabat Nabi yang ahli hadits dan fikih, Abdullah Ibni Mubarok, saat istirahat kala dalam kondisi perang. Kepada para sahabatnya, Ibnu Mubarok bertanya tentang amalan apakah yang paling istimewa dari pada berperang. Para sahabatnya sesama serdadu Muslim mengaku tidak tahu.

"Kemudian beliau [Abdullah Ibnu Mubarok] mengatakan, [amalan istimewa) yaitu apa yang dilakukan oleh seorang bapak yang siang-malam berusaha untuk menghidupi anak-anaknya, keluarganya, kemudian pada satu malam dia bangun, dia masuk ke dalam kamar anaknya, dan mereka semua pada tidur dan terbuka auratnya, langsung dia tutupi dan selimuti dengan bajunya,” ujar Gus Kautsar.

Contoh lain jihad yang istimewa adalah menuntut ilmu untuk mencegah diri dari kebodohan. Kenapa melawan kebodohan nilainya disebut sebagai jihad yang istimewa? Karena kebodohan adalah sumber dari segala malapetaka. "Makanya ngaji itu adalah segala-galanya. Penting," kata Gus Kautsar.

"Itu sebagaimana disampaikan oleh Imam Qorofy: Sumber malapetaka, baik urusan duniawiyah maupun ukhrawiyah, itu adalah karena kebodohan. Maka mari sebisa mungkin dari kita ini agar menghindari apa yang namanya kebodohan,” tambah Gus Kautsar.

Baca juga: Cegah Teroris Masuk Mabes, Komjen Ito Bilang Ini ke Jenderal Sigit