Habib Rizieq Diusulkan jadi Influencer Vaksin COVID-19

Agus Rahmat, Ahmad Farhan Faris
·Bacaan 2 menit

VIVA – Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi mengusulkan agar Habib Muhammad Rizieq Shihab dijadikan sebagai influencer oleh pemerintah untuk kampanye program vaksinasi.

Menurut dia, selama ini pemerintah kerap hanya menggaet artis saja sebagai influencer kampanye. Tapi tidak ada salahnya jika tokoh masyarakat dan agama seperti Habib Rizieq, dijadikan influencer program vaksinasi COVID-19.

“Saya bahkan mengusulkan Habib Rizieq Shihab pun kalau perlu jadi influencer vaksinasi, karena supaya orang tidak melihat ini isu politik, tapi isu bersama,” kata Burhanuddin dikutip dari Youtube pada Senin, 22 Maret 2021.

Saat ini, Indonesia sudah mendatangkan dua vaksin yakni Sinovac dari China dan yang terbaru adalah AstraZeneca dari Inggris. Sinovac sudah digunakan untuk vaksinasi, sementara AstraZeneca masih dalam proses mengingat MUI menyatakan haram tapi bisa digunakan.

Baca juga: Habib Rizieq Dipaksa Sidang Online, Din Syamsuddin: Bentuk Intimidasi

Sementara Burhanuddin mengatakan, Indikator Politik Indonesia tidak memberikan pertanyaan kepada responden anak muda terkait kehalalan vaksin AstraZeneca yang lagi ramai dibahas. Sebab, vaksin AstraZeneca diduga mengandung unsur babi tapi sudah dibolehkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) lantaran darurat.

“Kami tidak punya survei anak muda bulan Maret ini, tapi survei bulan lalu kami punya pertanyaan tentang seberapa penting faktor halal tidak halalnya vaksin. Itu ada 81 persen yang menganggap kehalalan vaksin sebagai isu penting buat masyarakat umum, baik muda maupun tua. Berarti kemungkinan besar penting juga buat anak muda di Indonesia. Artinya, isu kehalalan ini menjadi krusial,” jelasnya.

Oleh karena itu, Burhanuddin menyarankan pemerintah harus lebih memaksimalkan peran dari ulama dan tokoh agama dalam kampanye vaksinasi COVID-19. Sehingga, kata dia, yang menjadi influencer vaksin bukan hanya Raffi Ahmad, tapi mereka menjadi referensi dalam mengambil keputusan, termasuk tokoh agama dan isu politik.

“Data kami juga korelasi mereka yang bersedia divaksin dengan politik. Makanya waktu bulan lalu depan kepala daerah, saya usulkan termasuk Prabowo, Sandi, Anies itu harus berada di depan juga dalam kampanye vaksinasi. Jadi mereka harus dilibatkan,” jelas dia.

Ia menambahkan, anak muda yang bersedia melakukan vaksinasi COVID-19 juga cukup tinggi yakni sangat bersedia 10,3 persen; cukup bersedia 62,9 persen; kurang bersedia 19,6 persen; sangat tidak bersedia 1,9 persen; dan tidak tahu atau tidak jawab 5,3 persen.

“Mayoritas anak muda sangat bersedia melakukan vaksinasi COVID-19 yakni 73,2 persen dan sekitar 21,5 persen anak muda tidak bersedia divaksin,” katanya.

Survei dilakukan dengan cara kontak telepon kepada responden sebanyak 1.200 orang berusia 17 tahun sampai 21 tahun atau generasi muda. Cara ini dilakukan mengingat situasi masih pandemi COVID-19, sehingga sulit untuk tatap muka.

Sementara, metode yang digunakan simple random sampling dengan ukuran sampel 1.200 responden toleransi kesalahan (margin of error) sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara profesional pada 4-10 Maret 2021.