Habis juara, dibuang saja? Pentingnya memahami perkembangan atlet dan menyiapkan “pensiun” mereka

·Bacaan 4 menit
<span class="caption">Pebulutangkis ganda Putri Indonesia Greysia Polii dan Apriyani Rahayu saat menerima medali emas di Olimpiade Tokyo 2020, Jepang, pada Agustus 2021.</span> <span class="attribution"><span class="source">Sigid Kurniawan/Antara Foto</span></span>
Pebulutangkis ganda Putri Indonesia Greysia Polii dan Apriyani Rahayu saat menerima medali emas di Olimpiade Tokyo 2020, Jepang, pada Agustus 2021. Sigid Kurniawan/Antara Foto

Dalam tayangan “Mata Najwa” Oktober lalu tiga legenda bulu tangkis Indonesia - Liem Swie King, Taufik Hidayat, dan Candra Wijaya - kompak menyatakan minimnya perhatian negara pada atlet pasca pensiun.

Belum lama ini pula, mantan atlet cabang dayung Leni Haini mengungkap kisahnya harus menjual medali emasnya untuk membiayai pengobatan anak. Ketika kisah Leni viral di media, barulah negara lewat Kementerian Pemuda dan Olahraga memberi bantuan.

Menjadi atlet adalah sebuah pilihan karir. Namun berbeda dengan profesional lain, atlet umumnya memiliki masa produktif yang singkat dan pensiun pada usia dini (sekitar umur 30-an untuk kebanyakan olahraga).

Maka penting untuk melihat perkembangan atlet secara utuh dan mempersiapkan mereka untuk menjalani berbagai transisi ke dalam jalur karir atau kehidupan yang lain.

Model perkembangan karir olahraga

Banyak ahli berpendapat bahwa persiapan “pensiun” pada atlet seyogyanya serupa dengan persiapan pensiun pada umumnya.

Namun, Paul Wylleman, professor psikologi olahraga di Vrije Universiteit Brussel, Belgia, dan rekan-rekannya menentang gagasan ini.

Walau masa produktif atlet singkat, mereka punya peluang untuk melanjutkan ke pekerjaan lain dan melakukan transisi dengan sukses bila mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan pasca menjalani hidup sebagai atlet.

Di titik inilah, Wylleman dan kawan-kawan menekankan pentingnya melihat perkembangan atlet secara utuh.

Seorang atlet dari awal berkenalan dengan olahraga hingga pensiun mengalami sejumlah transisi yang beririsan dengan transisi aspek kehidupan lainnya. Aspek-aspek ini adalah perkembangan psikologis, perkembangan psikososial, dan perkembangan akademik-vokasional.

Bersama dengan perkembangan kemampuan atletik, inilah empat aspek yang mengulas utuh perkembangan karir berolahraga (sports career development model). Setiap transisi akan melahirkan kebutuhan dan konflik antaraspek. Konflik ini menawarkan dua kemungkinan: perkembangan positif bila berhasil dilakuan atau stress dan kelelahan mental (burnout) bila gagal diatasi.

Hal ini bisa dilihat pada contoh atlet junior (usia 12-18 tahun). Mereka ada dalam tahap remaja yang mengutamakan pertemanan dan pada saat yang sama juga dituntut untuk mengembangkan kemampuan akademik di sekolah menengah. Dua hal ini sering tidak sejalan dengan tujuan prestasi yang ingin dicapai.

Maka tidak aneh bila akhirnya atlet junior harus meninggalkan bangku sekolah untuk mengejar prestasi karena aspek pengembangan kemampuan atletik tidak sejalan dengan tuntutan akademik. Atau sebaliknya: ia berhenti menekuni olahraga prestasi.

Contoh lain bisa dilihat pada saat seorang atlet pada usia dewasa mudanya harus menyesuaikan diri bertransisi ke kehidupan setelah pernikahan atau sebagai orang tua sementara ia harus disiplin untuk menjaga prestasinya.

Mempersiapkan berbagai transisi

Transisi dari dunia atlet (sebagai ganti dari konsep pensiun) adalah proses besar yang tidak mudah.

Sebagian besar atlet sudah mempersiapkan diri mereka dari usia kanak-kanak. Ribuan jam sudah dihabiskan untuk mengasah kemampuan dan berkompetisi.

Ketika atlet pensiun, hal ini diakhiri begitu saja. Ribuan jam latihan dan kompetisi yang membentuk sebagian dari identitas ini kemudian seperti hilang.

Sebuah analisis pada 2013 terhadap 126 penelitian tentang proses transisi atlet di Amerika Serikat, Australia, Brazil, Cina, dan berbagai negara Eropa menemukan bahwa 16% atlet mengalami kesulitan dalam transisi pasca karir olahraga.

Lebih jauh, para mantan atlet seringkali mengalami perasaan kehilangan, krisis identitas, dan emosi negatif saat bertransisi dari kehidupan atlet.

Rendahnya tingkat pendidikan (karena harus meninggalkan bangku pendidikan) dan kesulitan keuangan juga ditemukan mempengaruhi proses transisi dari kehidupan mantan atlet.

Wylleman dan rekan-rekan berpendapat bahwa persiapan transisi karir yang memperhatikan pengembangan keterampilan hidup (life skill) pasca kehidupan atletik sangat krusial.

Fokus persiapan transisi karir ini perlu diarahkan pada usaha meningkatkan kemampuan sosial, pendidikan, dan keterampilan seorang atlet yang dapat ditransfer ke dalam konteks pekerjaan.

Sudah saatnya pengembangan dunia olahraga di Indonesia tidak hanya fokus pada kemampuan teknis soal olahraga tertentu, tapi juga beragam aspek yang disebutkan oleh Wylleman dan kawan-kawan: aspek psikologis, akademik-profesional, dan aspek psikososial.

Fokus pengembangan tidak hanya sekadar pada pembentukan keterampilan untuk berprestasi atau penciptaan iklim kompetisi, tapi juga pembekalan keterampilan hidup yang diperlukan kelak pasca kehidupan profesional sebagai seorang atlet.

Untuk mencapai ini semua, kita perlu kerja sama lintas sektor seperti pemerintah, swasta, akademisi, dan profesional (dokter olahraga, psikolog, ahli nutrisi, ilmuwan olahraga, dan lainnya).

Bahkan profesional di bidang keuangan pribadi yang terkesan tidak berhubungan dengan olahraga pun mungkin diperlukan, karena mereka dapat memberi pelatihan dan pengetahuan yang diperlukan untuk mempersiapkan diri pasca meninggalkan kehidupan sebagai sebagai atlet aktif.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel