Habitatnya Terganggu, Harimau Terkam Penebang Kayu Hutan di Riau

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Pekanbaru - Desa Teluk Lanus, Kabupaten Siak, kembali menjadi perhatian karena konflik manusia dengan satwa liar. Sejumlah orang di hutan yang berjarak 20 kilometer dari desa itu didatangi harimau sumatra.

Harimau sumatra sempat menyerang dan menerkam kaki penebang kayu di sana. Tidak diketahui apakah aktivitas menebang kayu itu legal atau ilegal logging.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Suharyono menjelaskan, pihaknya mendapat laporan konflik ini pada Sabtu siang, (10/7/2021). Seseorang yang diterkam bernama Azmi.

"Dia warga Kabupaten Pelalawan dan selamat, desa ini memang perbatasan antara Kabupaten Siak dan Pelalawan," terang Suharyono, Minggu malam, (11/7/2021).

Suharyono menjelaskan, kejadian bermula ketika ada aktivitas penebangan kayu hutan di daerah Sungai Belat, Desa Teluk Lanus. Di kawasan itu memang terdapat konsesi perusahaan hutan tanaman industri.

"Ada konsesi PT RAPP, PT Uniseraya dan ada juga Suaka Margasatwa Teluk Belat (habitat harimau sumatra)," kata Suharyono.

Saat itu, tiba-tiba saja datang seekor harimau sumatra mengganggu penebangan kayu hutan. Harimau berhasil mengejar seorang penebang dan mengigit kakinya.

"Harimau tadi kembali ke semak-semak setelah diusir penebang lainnya, harimau mundur karena jumlah penebang ada banyak," jelas Suharyono.

Jangan Tebang Kayu Hutan

Meski BBKSDA mendapat laporan penyerangan oleh harimau sumatra, petugas masih di lokasi mengecek kebenarannya. Apakah pelakunya memang harimau atau satwa liar lainnya yang terganggu karena penebangan kayu itu.

"Dan kalaupun itu harimau, belum bisa dipastikan apakah itu harimau yang sama yang masuk ke Desa Teluk Lanus beberapa waktu lalu," tegas Suharyono.

Atas kejadian ini, Suharyono turut prihatin. Dia berharap tidak ada konflik lagi dengan cara menghimbau masyarakat tidak beraktivitas di hutan.

"Apalagi menebang kayu di hutan primer yang merupakan ruang hidup satwa liar termasuk harimau sumatera," imbuh Suharyono.

Suharyono juga meminta masyarakat tidak memasang jerat di hutan dan berburu babi serta satwa lain. Pasalnya itu merupakan penopang hidup atau makanan pokok harimau sumatera.

"Meminta masyarakat tidak bertindak sendiri terkait konflik ini serta tidak berbuat anarkis harimau karena sangat dilindungi oleh negara," jelas Suharyono.

Simak juga video pilihan berikut ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel