Hacker Sebar Puluhan Ribu Data Pasien Rumah Sakit AS di Dark Web

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta - Setelah melakukan peretasan terhadap dua jaringan rumah sakit (RS) di Amerika Serikat (AS), hacker kemudian menyebar data pasien ke dark web.

Mengutip laman The Verge, Sabtu (6/2/2021), adapun data pasien yang disebar termasuk nama, tanggal ulang tahun, dan hasil kolonoskopi.

Dilaporkan NBC News, puluhan ribu file yang di-posting hacker berasal dari pasien di Leon Medical Center, Miami dan Rumah Sakit Umum Nocona, Texas.

Ikuti cerita dalam foto ini https://story.merdeka.com/2303605/volume-5

Catatan pasien yang di-posting dalam peretasan ini juga menyertakan surat kepada perusahaan asuransi. Namun tampaknya tidak ada ransomware yang mengunci sistem RS Nocona. Demikian menurut seorang pengacara untuk organisasi tersebut kepada NBC News.

Serangan siber di rumah sakit dan organisasi perawatan kesehatan kian meningkat. Serangan ini naik dua kali lipat pada paruh kedua 2020 dibandingkan dengan paruh pertama.

Dua serangan besar menargetkan fasilitas perawatan kesehatan AS pada musim gugur. Namun, hacker jahat umumnya tidak mem-posting informasi pasien secara publik.

Biasanya, pelaku juga mengunci sistem komputer sampai korban membayar tebusan dan akan menyebarkan data jika tebusan tidak dibayarkan.

Bahaya Bagi Pasien dan RS

Suasana kamar-kamar tempat isolasi pasien COVID-19 di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Selasa (19/1/2021). Dari 87 persen penggunaan tempat tidur di rumah sakit rujukan COVID-19, 24 persen di antaranya dihuni oleh warga dari Bodetabek. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Suasana kamar-kamar tempat isolasi pasien COVID-19 di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Selasa (19/1/2021). Dari 87 persen penggunaan tempat tidur di rumah sakit rujukan COVID-19, 24 persen di antaranya dihuni oleh warga dari Bodetabek. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Serangan semacam itu sangat berbahaya bagi pasien jika serangan ransomware membuat dokter dan perawat tak dapat mengakses file.

Mereka mungkin tidak dapat melihat catatan kesehatan pasien, yang mencakup informasi tentang hal-hal seperti alergi obat atau penggunaan mesin MRI dan CT scan.

Bahayanya lagi akan lebih banyak pasien meninggal dunia karena pihak RS harus mencurahkan waktu lebih untuk memperbaiki sistem ketimbang berfokus sepenuhnya pada pengobatan.

RS Tak Siap Hadapi Serangan

Anggota tim WHO mengenakan APD selama kunjungan lapangan ke Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Hewan Hubei di Wuhan di provinsi Hubei,  China  (2/2/2021). Sebelumnya, tim WHO yang beranggotakan 10 pakar telah berkunjung ke pasar, rumah sakit, dan pameran. (AP Photo/ Ng Han Guan)
Anggota tim WHO mengenakan APD selama kunjungan lapangan ke Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Hewan Hubei di Wuhan di provinsi Hubei, China (2/2/2021). Sebelumnya, tim WHO yang beranggotakan 10 pakar telah berkunjung ke pasar, rumah sakit, dan pameran. (AP Photo/ Ng Han Guan)

Sebagian besar organisasi perawatan kesehatan tidak siap menghadapi serangan siber dan memiliki lebih sedikit sumber daya untuk menyelesaikan masalah itu setelah hampir setahun memerangi Covid-19.

"Mereka kesulitan finansial karena pandemi," kata Caleb Barlow, CEO perusahaan konsultan keamanan siber CynergisTek, mengatakan kepada The Verge.

(Isk/Why)