Hadapi krisis, Kuba imbau warga tanam lebih banyak sumber makanan sendiri

Oleh Sarah Marsh

HAVANA (Reuters) - Di halaman sebuah kuil milik persaudaraan beragama Abakua Afro-Kuba di Havana, Nelson Piloto sedang membersihkan rumput untuk menanam paprika dan singkong sebagai persiapan menghadapi krisis pangan yang semakin berat di Kuba.

Piloto, 40, mengatakan ia menanggapi permintaan pemerintah komunis itu agar warga memproduksi lebih banyak makanan mereka sendiri, termasuk di kota-kota besar, di ruang apa pun yang dapat mereka gunakan, dari halaman belakang hingga balkon.

Berdiri di seberang dua pohon ceiba raksasa yang dianggap keramat oleh banyak orang di Kuba, kuil biasanya bergema dengan upacara yang melibatkan drum, pengorbanan hewan, dan tarian. Tapi komplek itu kosong sekarang karena pembatasan kuncian virus corona.

"Saya mengolah sebagian besar tanah," kata Piloto, bersandar pada cangkulnya.

Keamanan pangan akhir-akhir ini berada di puncak agenda nasional di Kuba, dengan berbagai berita utama yang tak terhitung jumlahnya dan diskusi di televisi lebih banyak membahas topik tersebut.

"Kuba bisa dan harus mengembangkan program keberlanjutan diri secara definitif dan darurat, dalam menghadapi blokade AS yang obsesif dan ketat, maka krisis pangan akibat COVID-19 bisa diatasi," kata José Ramón Machado Ventura, 89, wakil pemimpin Partai Komunis Kuba, seperti dikutip oleh media pemerintah, Senin.

Negara di Karibia itu mengimpor sekitar dua pertiga dari makanan yang dikonsumsi dengan biaya sekitar $ 2 miliar per tahun, di samping pasokan pertanian utama seperti pupuk, mesin, dan pakan ternak.

Tetapi impor menyusut dalam beberapa tahun terakhir karena bantuan dari sekutu Venezuela juga berkurang akibat krisis ekonomi dan Presiden AS Donald Trump memperketat embargo perdagangan AS yang sudah berusia setengah abad.

Akibatnya terjadi kekurangan makanan impor dan kemudian diikuti penurunan dalam produksi pertanian nasional. Produk Kuba seperti beras, tomat dan daging babi masing-masing turun 18%, 13% dan 8% dibanding tahun lalu, demikian menurut data yang dirilis bulan ini.

Pandemi virus corona, yang telah melumpuhkan sektor pariwisata yang menjadi andalan, semakin memperburuk situasi.

"Hari ini kita orang Kuba memiliki dua kekhawatiran besar: COVID-19 dan makanan. Keduanya membunuh. Kita mengalami kelangkaan parah," kata Yanet Montes, 51, yang kembali dari pasar pertanian Havana yang populer dengan hanya mendapatkan beberapa mangga.

Dia dan yang lainnya mengatakan ketersediaan produk di pasar seperti itu semakin menipis, dengan antrean panjang untuk barang-barang yang paling dicari seperti ubi jalar yang dijual sejak subuh.

PELAJARAN SURVIVAL 1990-an

Para pemimpin telah mengimbau rakyat Kuba untuk membuka kembali pelajaran yang dipelajari selama apa yang disebut "Periode Khusus," yaitu depresi ekonomi parah yang dialami Kuba setelah runtuhnya negara selalu memberi bantuan, yaitu Uni Soviet pada 1991.

Tahun lalu, mereka mendesak petani untuk menggunakan sapi sebagai pengganti traktor karena kelangkaan bahan bakar.

Program penghematan bahan bakar menjadi alasan departemen perencanaan untuk memperluas pertanian organik di daerah perkotaan dan pinggiran kota di mana produk yang dihasilkan dapat dijual langsung.

Kuba menjadi semacam pelopor pertanian organik pada 1990-an, mengembangkan teknik seperti pengomposan cacing, konservasi tanah, dan penggunaan biopestisida, untuk menggantikan pasokan impor dan monokultur skala besar.

Havana sekarang memproduksi 18% dari total hasil pertanian yang dikonsumsinya, menurut media yang dikelola pemerintah.

Para aktivis Partai Komunis mendaftar di beberapa provinsi untuk melakukan pekerjaan sukarela di ladang, sementara pihak berwenang telah membagikan selebaran kepada para pemimpin lingkungan di kota-kota dan kota-kota kecil tentang perluasan pertanian keluarga.

Di lingkungan perumahan di Havana timur, Luis Ledesma harus bertanya kepada istrinya apakah dia boleh mencabut bunganya, sehingga dia bisa menanam labu, ubi, singkong, mentimun dan daun bawang.

"Salah satu yang sulit ditemukan hari ini adalah beras," kata lelaki berusia 61 tahun itu, yang memelihara lima ekor ayam dan seekor ayam jantan dan berikutnya ingin memasang kandang kelinci. "Tapi sayuran akar bisa menggantikan nasi."

PEMBARUAN

Beberapa pengamat Kuba dengan hati-hati memperkirakan krisis akan mendorong pemerintah untuk mereformasi model pertanian, yang seperti halnya perekonomian lainnya, masih sangat tersentralisasi.

"Tidak ada yang baik dari kombinasi monopoli pasokan, monopoli distribusi dan harga terdistorsi," kata ekonom Kuba Pedro Monreal.

Pemerintah baru-baru ini mengisyaratkan kemungkinan mereformasi jaringan yang bertanggung jawab untuk membeli dan mendistribusikan sebagian besar hasil pertanian, tapi jaringan tersebut mendapat kecaman karena menyia-nyiakan tanaman dan merusak produksi.

Ekonom Kuba lainnya, Omar Everleny, mengatakan pemerintah harus membebaskan petani dari monopoli, agar memungkinkan mereka menemukan cara mereka sendiri untuk menjual produk dan mengimpor peralatan mereka sendiri.

"Saya mendapat kesan dalam beberapa bulan ke depan kita akan melihat reformasi baru," katanya.

Apa pun yang terjadi, beberapa orang Kuba seperti penyuka pertanian berkelanjutan, Marnia Briones, berharap negara itu tidak akan kehilangan kebiasaan yang timbul dari krisis ini dan sebelumnya, yang oleh sebagian orang disebut "revolusi hijau".