Hadapi New Normal, Siapkan Mental Berikut!

Syahdan Nurdin, IkhsanHidayat

VIVA – Ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi Covid-19, membuat pemerintah terus merancang strategi menghadapi Corona. Sampai saat ini, setelah Ramadhan berlalu, Corona masih belum musnah. Berbagai kebijakan telah diberlakukan oleh pemerintah. Baru-baru ini New Normal menjadi bahan pembicaraan. Untuk penerapannya pun masih terus dikaji.

Salah satu yang menjadi sorotan ialah tingkat kedisiplian masyarakat. Bahwa masyarakat seharusnya mengikuti peraturan yang ada, tidak melanggar. Berdisiplin dalam melakukan upaya untuk mengurangi penyebaran covid-19.

Sebab, menurut Rahmad Handoyo, cara yang dilakukan untuk memenangkan pertarungan melawan Covid-19 ialah dengan menerapkan sikap disiplin tinggi (Merdeka.com, 27/05). Termasuk dalam penerapan New Normal, maka kepatuhan dari masyarakat akan begitu berpengaruh. 

Bulan puasa telah berlalu. Banyak makna penting dari ibadah pada bulan Ramadhan, diantaranya ialah mendidik disiplin dalam menjalani hidup. Selama Ramadhan, kita telah dilatih untuk disiplin. Jika ditinjau dari segi medis, puasa mampu meningkatkan kadar kedisiplinan seorang Muslim. Sehingga, diharapkan orang yang berpuasa bisa konsisten hingga berakhirnya bulan Ramadhan.

Nah, di masa sekarang pun, dalam melakukan upaya untuk mengurangi virus corona, kita dituntut untuk berdisiplin. Kebijakan yang telah diberlakukan oleh pemerintah, tanpa dukungan dari masyarakat tentu tidak akan berhasil. Karena sampai saat ini, masih ada saja masyarakat yang enggan mematuhi peraturan yang berlaku.

Azanil Kelana sebagai salah satu Ketua DPP PBB menyatakan, bahwa perlu adanya dukungan atas kebijakan New Normal. Agar mempercepat dan menggerakkan pertumbuhan perekonomian tanah air.  

Bahwa untuk mengurangi penyebaran korban Covid-19, kebijakan New Normal diharapkan  bisa dipatuhi oleh seluruh elemen masyarakat. Ini dilakukan tentu dalam rangka menjaga penerapan protokol kesehatan (Liputan6.com, 26/5).

New Normal dan protoKol kesehatan

Realisasi New Normal dikatakan berhasil apabila dengan protokol kesehatan yang lebih ketat. Pembukaan kembali aktivitas ekonomi harus dilakukan. Melihat efek dari PSBB yang berdampak massif  bagi ekonomi Indonesia. Dimulai dari penerapan pekerja BUMN, pemerintah juga berencana membuka kembali aktivitas ekonomi. Maka, protokol kesehatan menjadi hal yang penting dalam menghadapi New Normal, seperti menjaga jarak sosial dengan mengurangi kontak fisik.

Mahfud MD mengatakan bahwa, menghadapi masa pandemi Covid-19 ini, masyarakat   menghadapinya dengan mengurung diri. Akan tetapi, masyarakat harus bisa menyesuaikan dengan keadaan yang ada, namun tetap harus menjaga diri. "Mengenai membuat kenormalan yang baru ini, karena sesuatu yang tidak bisa dihindari," ujar Mahfud. Surakarta, (26/05).

Bentuk penjagaan diri yang dilakukan ialah dengan membuat kebijakan untuk pembatasan. Misal, pusat perbelanjaan yang berkapasitas 5000, dibatasi  menjadi 1000 saja, kemudian tak lupa untuk pihak terkait untuk melakukan pengawasan. Pengelola mungkin tidak dapat berbuat banyak. Pembatasan jumlah pengunjung, jam operasional, protocol kesehatan menjadi yang diutamakan demi memutus mata rantai virus Corona.  

Konsep New Normal memang sudah baik, ini bertujuan agar kegiatan ekonomi bergerak. Namun dampak yang dihasilkan hanya pada beberapa sisi kehidupan saja. Hanya dari sisi ekonomi saja.

Sedangkan keselamatan masyarakat dikesampingkan. Maka, begitu ditekankan protokol kesehatan yang bertujuan untuk mencegah penularan virus Corona. Perlu dipastikan juga, bahwa masyarakat melakukannya dengan baik.

Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas mengatakan bahwa penjagaan jiwa manusia itu penting, jangan karena pertimbangan ekonomi, jiwa manusia jadi hilang.

Beberapa waktu lalu, Presiden RI Jokowi mengecek sebagian pusat perbelanjaan untuk memastikan kesiapannya dalam beroperasi. Di masa New Normal, Pemerintah akan menurunkan lebih banyak personil TNI dan Polri untuk bisa mendisiplinkan masyarakat mengikuti protokol kesehatan selama masa Corona.

Mereka akan dikerahkan ke lokasi keramaian untuk mengawasi aktivitas masyarakat dalam penerapan New Normal. Kita berharap bahwa pandemi Covid-19 ini benar-benar berakhir. Sehingga kehidupan dapat berjalan normal kembali.

Jadilah Rabbaniyyun, bukan Ramadhaniyyun

Dalam melakukan upaya pencegahan Corona, semangat kita jangan sampai menurun. Ramadhan telah dilewati. Puasa membuat kita selain bisa menahan lapar dan dahaga, juga menahan hawa nafsu. Dengan begitu, setelah Ramadhan berlalu, semoga semangat kita akan terus bangkit agar bisa bersatu. Bersatu melawan virus Corona.

Belajar dari bulan Ramadhan, yang menjadikan kita sebagai pribadi yang bertakwa. Semoga kita termasuk golongan orang yang senantiasa berbakti kepada Allah dan tak dibatasi bulan Ramadhan. Serta menjadi orang yang selalu mengingat dan beribadah, baik di dalam maupun di bulan ramadhan.

Sebab setelah bulan Ramadhan, umat Islam digolongkan menjadi dua golongan. Pertama, yaitu Ramadhaniyyun. Orang yang semangat beribadah pada bulan Ramadhan, namun tidak berlanjut lagi setelah berakhirnya bulan Ramadhan. Kedua, yaitu Rabbaniyyun. Orang yang selalu bersemangat beribadah meskipun bulan Ramadhan telah berakhir.

Tugas kita saat ini adalah menentukan sikap. Apa yang hendak kita pilih. Agar Ramadhan yang telah kita lewati menjadi sesuatu yang berarti. Sehingga umat Islam dalam menjalani puasa Ramadhan bisa lebih baik.

Apapun keadaan kita sebelum Ramadhan dan setelah Ramadhan, maka ketika kita keluar dari Ramadhan setidaknya menjadi lebih baik dari sebelum Ramadhan. Dengan puasa, juga dilatih untuk disiplin dalam hukum.

Saat berpuasa, tidak diperbolehkan bagi umat Islam untuk makan dan minum. Hawa nafsu, amarah, hubungan seks pun bisa dikendalikan. Maka, sudah seharusnya kita bisa mengendalikan diri untuk senantiasa disiplin dalam hukum-hukum lain. Termasuk sikap dalam bersatu melawan virus Corona.