Hadapi OPM, TNI Bakal Ubah Strategi Perang di Papua

Rifki Arsilan
·Bacaan 2 menit

VIVA – Beberapa waktu belakangan ini Papua kembali menjadi sorotan seluruh rakyat Indonesia. Perlawanan gerakan separatis bersenjata atau yang biasa dikenal dengan sebutan Organisasi Papua Merdeka (OPM) semakin brutal. Bahkan, kelompok bersenjata itu tidak segan-segan membunuh rakyat sipil dan prajurit TNI yang bertugas di Bumi Cenderawasih itu.

Dalam catatan VIVA Militer sejak Januari 2021, sudah tiga orang prajurit TNI AD menjadi korban keganasan OPM. Pertama, Prada Agus Kurniawan, anggota dari Satuan Batalyon Infanteri (Yonif) 400/Banteng Raider Kodam IV/Diponegoro. Prada Agus tewas setelah terlibat kontak senjata di Kampung Titigi, Distrik Hitadipa, Intan Jaya pada tanggal 10 Januari 2021 lalu.

Tak lama setelah itu, Dua prajurit kebanggaan TNI kembali menjadi korban peluru tajam kelompok OPM di Intan Jaya. Mereka adalah Pratu Roy Vebrianto, Anggota Batalyon Infanteri Raider 400/Banteng Raiders dan Pratu Dedi Hamdani yang berasal dari satuan Batalyon Infanteri Raider 408/Suhbrasta.

Dua prajurit yang berasal dari dua Batalyon di bawah komando Kodam IV/Diponegoro itu tewas pada tanggal 22 Januari 2021 setelah diserang oleh kelompok OPM dari arah ketinggian di sekitar Kampung Sugapa Lama dan Kampung Hitadipa, Intan Jaya, Papua.

Menyikapi hal tersebut, Asisten Latihan Kepala Staf Angkatan Darat (Aslat KSAD) Mayjen TNI Harianto mengungkapkan di hadapan ratusan prajurit Batalyon Infanteri (Yonif) 315/Garuda, bahwa pihaknya akan merubah pola latihan perang bagi prajurit tempur yang akan bertugas di Papua dengan metode latihan perang gerilya. Hal itu dilakukan guna meminimalisir jumlah korban jiwa dalam menjalankan operasi di Papua.

"Dengan banyaknya korban ditempat Tugas , selaku Asisten Latihan saya membuat perubahan latihan untuk personel yang melaksanakan Tugas, sehingga personel mulai Januari melaksanakan latihan yang menggunakan metode baru," kata Mayjen TNI Harianto dikutip VIVA Militer dari keterangan resmi Penrem 061/Surya Kencana, Jum'at, 5 Februari 2021.

Dia menambahkan, latihan yang akan diselenggarakan ini bukanlah latihan Reguler, melainkan latihan yang memang dikhususkan untuk perang gerilya, dan wajib diikuti oleh semua personel TNI AD.

"Latihan perang Gerilya perlu ditingkatkan lagi. Jangankan kita, Amerika sendiri di Vietnam hancur, makanya perlu Latihan Taktik Perang Gerilya yang harus dikuasai oleh semua personel, kita harus menguasai pengenalan karakter orang Papua/OPM, baik cara budayanya, cara mencari makan dan cara mereka bertahan hidup, sehingga tugas akan berhasil apabila kita menguasai kultur mereka," ujarnya.

Menurut Mayjen TNI Harianto, seluruh prajurit TNI harus selalu mengedepankan kewaspadaan, insting, serta naluri dalam menjalankan tugas.

Sementara itu, Kasdam III/Siliwangi Brigjen TNI Kunto Arief Wibowo yang turut mendampingi Aslad KSAD di Markas Yonif 315/Grd menyatakan, Papua merupakan daerah rawan yang memiliki medan yang sangat berbeda. Sehingga, prajurit tempur TNI AD yang mendapat julukan Pasukan Setan itu diwajibkan untuk berlatih dengan keras sehingga dapat menyesuaikan situasi di medan operasi dalam menghadapi kelompok bersenjata OPM.

"Terima saja latihan yang akan kalian terima, seperti apapun bentuknya. Karena itu yang akan kamu bawa di sana nanti. Senangi latihan, senangi pekerjaan, sudah. Yang namanya pertempuran darat harus mampu bertempur gerilya," kata Brigjen TNI Kunto.

Baca juga: Mayjen TNI Harianto ke Pasukan Setan: Jangan Anggap Sepele OPM