Hadapi Resesi dengan Lumbung Padi

Merdeka.com - Merdeka.com - Tahun 2023 diprediksi akan terjadi resesi ekonomi global. Pemerintah pun saat ini tengah melakukan berbagai hal untuk mengantisipasinya, salah satunya memperkuat sektor pangan.

Di Desa Padawaras, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, masyarakat sudah melakukan langkah jauh-jauh hari untuk menjaga ketahanan pangan. Di desa tersebut, warga selalu menyediakan stok beras di 'Leuit' atau lumbung padi setelah panen untuk beberapa bulan ke depan.

Warga Desa Padawaras, selama ini lebih mementingkan menyetok padi untuk persediaan selama empat bulan ke depan dibanding menjualnya. Kebiasaan tersebut dilakukan sejak lama, atau tepatnya dari masa 'Karuhun' atau leluhur mereka, selain karena beras adalah kebutuhan pokok sehari-hari.

Dengan kebiasaan itu, Kepala Desa Padawaras, Yayan Siswadi mengatakan bahwa untuk soal ketahanan pangan di wilayahnya dipastikan tidak perlu khawatir.

"Sebagian besar warga kami, di setiap rumahnya memiliki lumbung tempat menyimpan padi. Itu kebiasaan yang dilakukan sejak masa leluhur," katanya.

Menyimpan padi di lumbung, menurutnya sudah dianggap kewajiban warga saat mereka panen. Namun walau begitu, sebagian hasil panen ada juga yang dijual dan diuangkan untuk kebutuhan harian masyarakatnya.

Dia mengungkapkan, kebiasaan yang menjadi kewajiban itu dilakukan karena warga berpikir bahwa beras adalah kebutuhan fundamental harian bagi mereka. Itu karena nasi adalah menu harian mereka saat makan pagi, siang atau malam.

"Berbeda halnya dengan kalau misalnya tidak punya uang. Kalau masih bisa makan nasi kan masih bisa hidup. Jadinya memang tradisi dari leluhur itu masih dan terus diberdayakan oleh warga di sini," ungkap Yayan.

Mayoritas warga di desanya, dijelaskan Yayan memang adalah petani. Dengan begitu, saat padi yang ditanam disemai maka mereka akan lebih mengutamakan mengisi lumbungnya dengan padi dibanding menjualnya untuk diuangkan sebagai persediaan sampai musim panen selanjutnya.

"Di sini sudah biasa seperti itu, jadi ketika pemerintah menggembar-gemborkan soal ketahanan pangan, kami sudah melakukannya jauh-jauh hari," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Tasikmalaya, Nuraedidin menyebut bahwa kebiasaan masyarakat menyimpan padi yang dipanen di lumbung, salah satunya di Desa Padawaras, menjadikan Kabupaten Tasikmalaya surplus besar 5.300 ton di tahun ini.

Dengan kondisi tersebut, Nuraedidin memastikan bahwa ketahanan pangan di Kabupaten Tasikmalaya terjamin aman. "Yang terjadi adalah Kabupaten Tasikmalaya memberikan kontribusi besar ke Provinsi Jawa Barat yang menjadi peringkat terbaik kedua se-Indonesia setelah Jawa Timur dalam hal ketahanan pangan," sebutnya.

Ia mengungkapkan bahwa Bupati Tasikmalaya, Ade Sugianto selalu memberikan penjelasan dan sosialisasi kepada masyarakat agar kembali ke masa dulu atau mengikuti dan mencontoh nenek moyang dalam hal ketahanan pangan.

"Antisipasi begitu besar di Kabupaten Tasikmalaya justru juga menekan inflasi daerah kita surplus sebagian besar (komoditas), termasuk beras 5.300 ton tahun ini. Kecuali di satu jenis kedelai, kalau yang lain cabai merah, bawang putih, ayam petelur, pedaging, beras surplus sehingga kita memberikan kontribusi ke Jabar," ungkapnya.

Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, menurutnya saat ini melindungi lahan pertanian seluas 45.050 hektare yang tersebar di 39 kecamatan. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya alih fungsi lahan karena pembangunan.

"Yang ada, Bupati terus meminta kami membuka lahan baru pertanian di sejumlah wilayah," katanya. [cob]