Hadapi tantangan demografi di Indonesia dengan energi terbarukan

Faisal Yunianto
·Bacaan 4 menit

Energi terbarukan adalah solusi prima bagi pemerintah untuk menciptakan lapangan pekerjaan, terutama selama masa bonus demografi Indonesia yang diperkirakan mencapai puncaknya kurang dari 10 tahun lagi.

Bonus demografi adalah periode waktu ketika jumlah masyarakat usia produktif (15 sampai 64 tahun) lebih banyak dibandingkan anak-anak dan masyarakat lanjut usia.

Namun, kita perlu tetap waspada karena bonus demografi akan berubah menjadi bom waktu beban demografi bila tingkat penciptaan lapangan pekerjaan tidak dapat mengimbangi pertumbuhan populasi usia produktif. Karena itu, pemerintah Indonesia perlu mencetak sebanyak mungkin lapangan pekerjaan dalam satu dekade ke depan dan energi terbarukan merupakan opsi yang paling menguntungkan.

Walaupun Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sudah lama membahas kedatangan masa bonus demografi Indonesia, tingkat pengangguran Indonesia cenderung meningkat setiap tahun sejak titik terendah pada 2014.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia mencapai 7,07 persen pada Agustus 2020, meningkat 1,84 persen dibanding Agustus 2019.

Selanjutnya, Kepala Bappenas Suharso Monoarfa memperkirakan jumlah pengangguran bisa mencapai 10,7 juta sampai 12,7 juta orang pada 2021. Tentu semua ini menunjukkan pentingnya mengubah cara pandang perencanaan kita selama ini.


Serap tenaga kerja

Ketika laporan kinerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa pemerintah masih jauh lebih fokus pada investasi energi fosil ketimbang energi terbarukan, berbagai studi internasional telah menunjukkan besarnya potensi penciptaan lapangan pekerjaan energi terbarukan.

The International Renewable Energy Agency (IRENA), organisasi antar pemerintah yang mendukung negara-negara dalam transisi menuju masa depan energi berkelanjutan menunjukkan bahwa tenaga surya merupakan pencetak lapangan pekerjaan terbesar di sektor energi dan akan terus menguat di masa mendatang dibanding sumber tenaga tradisional (bahan bakar fosil) yang terus mengalami pengurangan penyerapan tenaga kerja.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa penciptaan lapangan pekerjaan di sektor energi terbarukan semakin cepat setiap tahun dan dapat terus meningkat hingga 25 juta pada tahun 2030 bila didukung kebijakan yang memadai.

Penelitian Castillo dkk (2018) menunjukkan bahwa tenaga surya menghasilkan paling banyak pekerjaan yaitu sekitar 6,65 pekerjaan per GWh (Gigawatt-jam) energi yang dihasilkan.

Angka ini jauh lebih tinggi dari batu bara yang diperkirakan hanya menghasilkan 0,07 pekerjaan per GWh. Berbagai sumber energi terbarukan lainnya juga menghasilkan jauh lebih banyak pekerjaan dari batu bara dengan 0,45 untuk tenaga bayu; 0,42 untuk bioenergi; 0,33 untuk geothermal; maupun 0,25 untuk tenaga air.

Laporan Renewable Energy Policy Network REN21 (2020) menunjukkan bahwa pada 2017-2018, energi terbarukan mempekerjakan secara langsung lebih dari 95 ribu orang di India, pertumbuhan drastis yang bisa langsung melebihi jumlah pekerja di industri energi fosil India dalam hanya satu tahun.

Selain itu, REN21 memperkirakan bahwa industri energi terbarukan di India juga telah menghasilkan sekitar 210 ribu pekerjaan informal. Penciptaan lapangan pekerjaan di sektor energi terbarukan hanya akan bertambah cepat karena selama periode 2013-2018 peningkatan pertumbuhan kapasitas terpasang energi terbarukan sebesar 21,5 persen, jauh lebih besar dari sumber tenaga fosil hanya bertumbuh 5,7 persen.

Padahal subsidi global untuk tenaga fosil masih terus meningkat dan pada 2018 diperkirakan masih dua kali lebih besar dari dukungan terhadap energi terbarukan.

Penelitian Engel dkk (2020) menunjukkan setiap investasi 10 juta dolar AS, rata-rata jumlah pekerjaan yang dihasilkan di sektor energi terbarukan (bayu, surya, bioenergi, panas bumi, dan air) menghasilkan 75 pekerjaan. Data ini menunjukkan, rata-rata semua sumber tenaga fosil (batu bara, minyak, dan gas) hanya menghasilkan 27 pekerjaan setiap investasi 10 juta dolar AS.

Data yang sama juga menunjukkan bahwa setiap Euro yang disalurkan ke pemulihan hijau akan menghasilkan 2-3 Euro Gross Value Added (GVA) serta berbagai manfaat sosio-ekonomi lainnya seperti menanggulangi efek berkurangnya penyerapan tenaga kerja oleh berbagai sunset industry seperti industri energi fosil.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan sumber minyak bumi Indonesia hanya akan bertahan sembilan tahun ke depan. Akibatnya, dapat diperkirakan bahwa lapangan pekerjaan dari sektor tersebut akan terus berkurang seiring menurunnya tingkat produksi minyak bumi Indonesia.

Hal serupa juga dapat terjadi pada sektor batu bara yang diperkirakan habis cadangannya dalam 50 tahun. Apalagi bila produksinya terus digenjot melebihi tingkat yang telah ditetapkan dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

Semua ini menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia tidak boleh lagi terpaku pada sektor industri fosil dan seharusnya mempercepat pengembangan energi terbarukan untuk menciptakan lebih banyak pekerjaan.

Bila kita tidak segera berubah haluan ke arah energi terbarukan, bukan tidak mungkin Indonesia akan kesulitan menghadapi beban demografi yang akan segera tiba.

Beralih dari industri fosil ke energi terbarukan dapat dimulai dengan merancang paket pemulihan dari COVID-19 yang lebih hijau, dengan memberikan lebih banyak insentif spesifik ke sektor energi terbarukan ketimbang rancangan saat ini.

Pemulihan yang lebih hijau bukan hanya akan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan, tapi juga akan memberikan lebih banyak nilai tambah ke dalam perekonomian bangsa.

*) Wira Dillon adalah Peneliti Yayasan Indonesia Cerah