Hadiri Haul Kiai Ageng Gribig, Airlangga: Ini jadi Pedoman Perjuangan Emban Amanah

Merdeka.com - Merdeka.com - Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menghadiri Haul Kyahi Ageng Gribig bersama masyarakat di Jatinom, Klaten. Ia menyebut kegiatan tersebut bagian dari menjadi tradisi kebudayaan secara turun temurun.

"Kegiatan ini merupakan bagian dari merawat tradisi kebudayaan yang turun-temurun dalam rangka mengenang dan meneruskan tradisi Kyai Ageng Gribig dengan penyampaian dakwahnya yang penuh kelembutan, ramah, tegas, serta efektif menyentuh hati masyarakat," ujar Airlangga, Sabtu (16/9).

Sebelum acara selawat dan zikir, masyarakat Jatinom, Klaten, menggelar Kirab Budaya Gunung Apem. Menurut penuturan salah seorang sesepuh kegiatan, Kanjeng Raden Tumenggung Muhammad Darianto Rekso Hastonodipuro, kirab tersebut adalah media dalam merayakan dan mengenang tradisi yang diajarkan oleh Kyai Ageng Gribig yaitu dakwah melalui budaya.

Budaya yang dimaksud yakni andum atau berbagi ampunan kepada sesama manusia yang kemudian disimbolkan secara fisik dengan pembagian apem kepada masyarakat.

Tradisi andum apem sudah dimulai sejak 403 tahun lalu, namun untuk kegiatan kirab baru dilangsungkan sejak tahun 1985 seiring dengan bertambahnya jumlah peziarah di makam Kyahi Ageng Gribig. Puncak acara dari budaya andum apem ini yakni dengan membagikan 4 hingga 5 ton apem kepada seluruh masyarakat sebagai simbol kebajikan dalam memberikan sedekah kepada sesama.

Kirab budaya yang telah menjadi tradisi ini, beberapa tahun terakhir sempat ditiadakan dan diubah formatnya agar tak menjadi kerumunan masyarakat. Kini seiring melandainya kasus pandemi Covid-19, gelaran budaya di berbagai daerah bisa kembali dilaksanakan.

Mengenai tradisi pembagian Apem atau lebih dikenal dengan Saparan Apem Yaa Qowiyyu, Airlangga Hartarto mengatakan, hal itu merupakan inovasi strategi dakwah unik yang dilakukan Kyahi Ageng Gribig, dengan membagikan apem kepada masyarakat sembari membaca wirit yaa qowiyyu.

Tradisi ini mengandung nilai-nilai yang dapat menjadi pedoman garis perjuangan bagi masyarakat dalam mengemban amanah.

"Nilai yang diajarkan Kyai Ageng Gribig senantiasa menjadi nilai bagi kita karena apem sendiri mempunyai filosofi yakni A untuk akar sejarah yang kuat guna menjaga tradisi budaya dan warisan pahlawan bangsa, P untuk persatuan dan kesatuan guna menjaga dan menanamkan nilai toleransi, kerukunan, dan kebhinekaan, E untuk ekonomi kerakyatan sehingga pembangunan ekonomi harus ditujukan untuk kesejahteraan rakyat," tutur Airlangga.

Airlangga berharap, kegiatan Kirab Budaya Gunung Apem dan Haul Ki Ageng Gribig dapat terlaksana setiap tahunnya guna menjaga kelestarian budaya kemasyarakatan serta sebagai bentuk takzim atau penghormatan kepada para leluhur yang telah berjasa dalam pengembangan agama dan budaya. [rhm]