Haedar: elite bangsa yang berkontestasi pada 2024 perlu ke museum

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan bahwa elite bangsa yang akan berkontestasi pada Pemilihan Umum serentak 2024 selain berkunjung ke tempat konsentrasi massa juga perlu berkunjung ke museum untuk belajar sejarah.

"Ke depan saya yakin para elite bangsa yang ingin berkontestasi di 2024 baik untuk legislatif maupun eksekutif juga perlu datang ke museum," kata Haedar usai peresmian Museum Muhammadiyah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Senin.

Menurut Haedar, berkunjung ke pesantren maupun ke tempat yang mengandung massa memang wajar dan perlu dilakukan oleh para elite bangsa calon pemimpin, tetapi juga perlu berkunjung ke museum untuk belajar tentang visi kenegaraan, dan visi kebangsaan.

"Karena di tangan para pemimpin yang terpilih besok itulah Indonesia lima tahun ke depan berada nasibnya," ucapnya.

Baca juga: Haedar: Museum sebagai wujud kontribusi Muhammadiyah untuk bangsa

Baca juga: Haedar: Buya Syafii sangat tepat diusulkan pahlawan nasional

Oleh karena itu, kata dia, dari manapun partai nya, dari manapun golongan nya, tipologi apa pun tokohnya, elite bangsa yang dipilih nantinya tetap semua harus punya visi jiwa alam pikiran kenegarawanan.

"Sehingga kami ini yang ada di organisasi kemasyarakatan (ormas) tenang, semua tenang kalau pemimpinnya tahu membawa nakhoda Indonesia kemana," tuturnya.

Dia mengibaratkan kalau kapal berlayar, sementara nakhoda tidak tahu mau membawa kemana maka para penumpang cemas juga, apalagi di tengah gelombang yang luar biasa dahsyat ini.

"Tapi kalau nakhoda piawai, kemudian tahu arah perjalanan biarpun ada goncangan kita tenang, dan itulah yang kita harapkan dari visi pemimpin," ujarnya.

Lebih lanjut, Haedar juga mengatakan, di era revolusi 4.0, bangsa semua harus makin adaptif dengan teknologi, sehingga di Museum tersebut akan dikembangkan laboratorium khusus untuk film berbagai hal tentang sejarah bangsa yang ada kaitannya dengan perjuangan pahlawan.

"Misalkan, ketika terjadi perang gerilya Muhammadiyah menggerakkan askar perang Sabil sebagai satu kesatuan dengan perang gerilya oleh Soedirman, itu kan monumental sekali, bahkan dijadikan contoh oleh negara lain tentang sistem perang gerilya, ini penting buat generasi bangsa," katanya.