Haedar sebut generasi muda perlu berguru pada pemikiran Prof Azyumardi

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyebut generasi muda Indonesia perlu berguru pada pemikiran mendiang cendekiawan muslim Prof. Azyumardi Azra yang mencerdaskan dan mencerahkan.

"Generasi muda Indonesia penting berguru dan mengambil banyak mozaik dari pemikiran-pemikiran Prof. Azra yang mencerdaskan dan mencerahkan," kata Haedar dalam keterangan tertulis diterima di Yogyakarta, Minggu.

Bagi Haedar, Azyumardi adalah cendekiawan muslim dan intelektual bangsa yang maqom-nya sudah begawan atau ar-rasih fil-'ilmi.

Pemikiran Ketua Dewan Pers itu, menurut Haedar, senantiasa jernih dan komprehensif yang menggambarkan kedalaman dan keluasan ilmu, khususnya ilmu keislaman yang terkoneksi dengan berbagai aspek kehidupan.

Haedar juga menuturkan bahwa almarhum memiliki pemahaman sejarah yang luas dan dapat menjelaskan banyak hal dari peristiwa masa lampau dengan kekinian, termasuk analisisnya tentang jaringan ulama internasional.

Pemikirannya tentang peradaban, menurut dia, juga melintas batas sehingga menggambarkan inklusivisme yang luas. Demikian halnya dengan pemikirannya tentang politik Islam, selalu menyajikan analisis yang cerdas dan simultan, tidak dogmatik dan apologi.

"Saya mengenal beliau cukup lama, bahkan ketika menjadi salah seorang penguji disertasi di UGM, sungguh merupakan pengalaman yang berkesan mendalam, baik tentang sikap maupun pemikirannya," kata dia.

Selain itu, kata Haedar, mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu adalah sosok rendah hati meskipun berada di puncak posisi sebagai intelektual ternama bukan hanya di Indonesia, melainkan di tingkat regional dan global.

Meninggalnya Prof. Azyumardi Azra di Malaysia pada hari Minggu (18/9) dalam perjalanan berbagi ilmu sehingga Haedar meyakini almarhum wafat dalam terkategori sahid di jalan Allah.

Meninggalnya di Malaysia sebagai narasumber di pertemuan Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), kata dia, menunjukkan keluasan radius keintelektualannya.

"Beberapa waktu lalu kami terakhir kali berjumpa secara daring ketika beliau menjadi pembicara kunci dalam ISKA dan launching Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) di Perlis, yang waktu itu kami hadir secara luring dan beliau daring karena tidak bisa datang ke Perlis," jelas Haedar.

Haedar mengatakan pula bahwa almarhum memiliki sikap kritis dan tidak segan menyuarakan pemikirannya yang bersifat korektif dengan tetap objektif dan bijak sebagai intelegensia guru bangsa.

"Kami sungguh kehilangan sang intelegensis begawan bangsa. Selamat jalan Prof. Azyumardi, doa kami menyertai perjalananmu ke haribaan Ilahi menuju jannatun na'im," ujar Haedar.

Baca juga: Menpan RB: Azyumardi tokoh pluralis yang menginspirasi
Baca juga: Telur rebus sarapan terakhir untuk Profesor Azyumardi Azra