Hakikat Filsafat Ilmu

Syahdan Nurdin, fajar22
·Bacaan 7 menit

VIVAFilsafat merupakan induk dari segala ilmu. Filsafat telah mengantarkan kepada suatu fenomena adanya siklus pengetahuan sehingga membentuk suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana pohon ilmu pengetahuan telah tumbuh dan berkembang secara subur sebagai fenomena kemanusiaan dan menjadi banyak cabang ilmu pengetahuan.

Dengan demikian dalam Mempelajari Hakikat Filsafat Ilmu, Kita Harus Memahami Terlebih Dahulu Tentang Pengertiannya, Dasar-Dasar, Tujuan Dan Manfaat Ilmu itu sendiri yang akan kita bahas di bawah ini.

PEMBAHASAN

1. ILMU SEBAGAI KAJIAN FILSAFAT

Pada dasarnya, setiap ilmu memiliki dua objek, yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah sesuatu hal yang dijadikan sasaran penyelidikan, sedangkan objek formal adalah metode untuk memahami objek material.

Secara umum, objek material filsafat terbagi atas tiga bagian, yaitu yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan. Sedangkan objek formal filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal, dan rasional tentang segala yang ada (Endraswara, 2015).

Ilmu sebagai objek kajian filsafat sepatutnya mengikuti alur filsafat, yaitu objek material yang didekati melalui pendekatan radikal, menyeluruh, dan rasional. Sifat pendekatan spekulatif dalam filsafat sepatutnya juga merupakan bagian dari ilmu karena ilmu dilihat pada posisi yang tidak mutlak, sehingga masih terdapat ruang untuk berspekulasi demi pengembangan ilmu (Latif, 2015).

2. PENGERTIAN FILSAFAT ILMU

Kata filsafat berasal dari kosakata berbahasa Yunani, yaitu ‘philosophia’, yang memliki akar kata ‘sophos’ (bijaksana) dan ‘philien’ (mencintai). Istilah ‘philosophia’ memiliki makna cinta kebijaksanaan atau mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana. Dalam bahasa Inggris, kata filsafat disebut dengan istilah ‘philosophy’, sedangkan dalam bahasa Arab disebut dengan istilah ‘falsafah’ yang diterjemahkan dengan ‘cinta kearifan’. Orang yang berusaha mencari kebijaksanaan disebut sebagai filsuf atau filosof (Susanto, 2016).

Ilmu berasal dari kosa kata bahasa Arab, yaitu ‘alim yang berati ‘tahu’ atau ‘mengetahui’. Dalam bahasa Inggris, ilmu disebut dengan ‘science’. Menurut Badudu (dalam Susanto, 2016), ilmu diartikan ke dalam dua definisi. Pertama, ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara sistematis. Kedua, ilmu diartikan sebagai kepandaian atau kesaktian.

The Liang Gie (dalam Susanto, 2016), mengatakan bahwa filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi kehidupan manusia. Bagi Gie, filsafat ilmu bukan hanya dipahami sebagai ilmu untuk mengetahui metode dan analisis terhadap iomu-ilmu lain, tetapi juga sebagai usaha seseorang dalam mengkaji persoalan yang muncul melalui perenungan yang mendalam agar persoalannya dapat diketahui secara mendasar.

Jujun S. Suriasumantri (2010) mengartikan filsafat ilmu adalah suatu pengetahuan atau epistemologi yang mencoba menjelaskan rahasia alam agar gejala alamiah tersebut tak lagi merupakan misteri.

Mukhtar Latif (2015) mengatakan bahwa filsafat ilmu adalah telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertnyaan mengenai hakikat ilmu, baik ditinjau dari sudut ontologis, epistemologis, maupun aksiologis yang dilakukan melalui proses dialektika secara mendalam (radic) yang sistematis dan bersifat spekulatif.

Sedangkan Iu Rusliana (2017) memberi pengertian filsafat ilmu sebagai pendekatan filosofis mengenai syarat, landasan keabsahan, serta obyek dan metode ilmu pengetahuan.

~Berdasarkan pemaparan tentang pengertian filsafat ilmu dari sembilan ahli di atas, maka penulis berpendapat bahwa filsafat ilmu adalah suatu kajian filsafat yang membahas hakikat, perkembangan, dasar-dasar, dan hubungan antarsesama ilmu, termasuk telaah kritis terhadap persoalan pemikiran ilmiah dan non-ilmiah.

3. DASAR-DASAR ILMU

1) Ontologi

Ontologi merupakan cabang teori hakikat yang membicarakan hakikat teori yang ada. Istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani onta berarti ‘yang berada’, dan logos berarti ilmu atau ajaran. Dengan demikian, ontologi berarti ilmu pengetahuan atau ajaran tentang yang berada (Susanto, 2016).

Menurut Suriasumantri (2010), ontologi berarti ajaran mengenai yang ada atau segala sesuatu yang ada. Landasan ontologi berupa membicarakan obyek yang ditelaah ilmu, wujud yang hakiki dari obyek itu, dan hubungan antara obyek dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan.

Dan Bakhtiar (2012) mengemukakan bahwa secara istilah, ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, baik yang berbentuk jasmani/ konkret maupun rohani/ abstrak.

2) Epistemologi

Secara etimologi, epistemologi berasal dari kata berbahasa Yunani episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu. Jadi, epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode, dan validitas pengetahuan. Epistemologi juga disebut sebagai teori pengetahuan (theory of knowledge) atau filsafat pengetahuan (philosophy of knowledge) (Susanto, 2016).

Suriasumantri (2010) mengartikan epistemologi sebagai tema yang mengkaji tentang pengetahuan. Landasan epistemologi membahas mengenai proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu, prosedur penimbaan pengetahuan menjadi ilmu, upaya dan kriteria yang harus dilakukan agar mendapatkan pengetahuan yang benar, dan cara yang membantu manusia dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu.

Bakhtiar (2012) menjelaskan definisi epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian, dan dasar-dasarnya, serta pertanggung jawaban atas pertanyaan mengenai pengetahuan yang telah dimiliki.

3) Aksiologi

Istilah aksiologi berasal dari gabungan dua kata berbahasa Yunani, yaitu axios yang berarti nilai dan logos yang berarti ilmu. Sehingga secara etimologi, aksiologi bermakna ilmu tentang nilai. Teori tentang nilai di dalam filsafat mengacu kepada permasalahan etika dan estetika. Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai, yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan (Susanto, 2016).

Menurut Latif (2015), aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Aksiologi juga bisa disebut sebagai the theory of value (teori nilai).

Menurut Suriasumantri (2010), aksiologi adalah dasar ilmu pengetahuan yang berbicara tentang nilai kegunaan ilmu. Landasan aksiologi meliputi tujuan pengetahuan yang berupa ilmu itu digunakan, kaitan antara cara penggunaan pengetahuan dengan kaidah-kaidah moral, penentuan obyek ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral, serta kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral dan profesional.

4. TUJUAN FILSAFAT ILMU

Tujuan kehadiran dan pembelajaran filsafat ilmu antara lain sebagai berikut:

1) Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.

2) Mempertahankan, menunjang, dan melawan atau berdiri netral dan pandangan filsafat lainnya.

3) Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup, dan pandangan dunia.

4) Memberikan ajaran tentang moral dan etikay berguna dalam kehidupan.

5) Menjadi sumber inspirasi dan pedoman untuk kehidupan itu sendiri, seperti ekonomi, politik, dan hukum (Erwin, dalam Latif, 2015).

5. MANFAAT MEMPELAJARI FILSAFAT ILMU

Menurut Achmadi (dalam Susanto, 2016), mempelajari filsafat ilmu sangat penting karena dengan ilmu tersebut, manusia akan dibekali suatu kebijaksanaan yang di dalamnya memuat nilai-nilai kehidupan yang sangat diperlukan oleh manusia.

Muhammad Erwin (dalam Latif, 2015) memaparkan empat manfaat dalam mempelajari filsafat ilmu, yaitu:

1) Menghindari timbulnya pandangan bahwa pengertian sudah menjamin perbuatan, namun pengertian serba sedikit menjadi tantangan ilmu filsafat dapat dugunakan sebagai pedoman kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

2) Sebagai pandangan hidup yang mantap yang akan menentukan kriteria baik buruknya tingkah laku kita yang telah kita pilih dan atas dasar keputusan batin kita sendiri, manusia telah memiliki kebebasan dan kepribadian sendiri.

3) Mengurangi dan menghindari gejala negatif dalam hidup (negative thinking) agar hidup lebih terarah dan tepat.

4) Memiliki tingkah laku hidup bertujuan, yang didasarkan dan ditentukan oleh filsafat hidupnya agar tingkah lakunya lebih bernilai

KESIMPULAN

Berdasarkan pemaparan materi tentang filsafat ilmu di disajikan diatas, maka penulis memberi kesimpulan sebagai berikut.

1. Asal mula ilmu adalah filsafat, karena filsafat merupakan ‘ruang pemikiran’ yang terlebih dahulu melakukan pembahasan tentang segala yang ada secara sistematis, rasional, dan logis termasuk yang empiris, sehingga ilmu berperan sebagai satu obyek kajian filsafat serta arah pertumbuhan dan perkembangan segala ilmu merujuk pada filsafat.

2. Sejarah mencatat bahwa proses perkembangan ilmu sebagai pengetahuan yang bersifat ilmiah tidak berlangsung secara ringkas, tetapi membutuhkan waktu yang sangat panjang dimulai dari lahirnya filsafat yang menghasilkan ilmu pengetahuan dasar pada zaman Yunani kuno, berlanjut pada zaman Islam klasik, beralih ke zaman renaissance, zaman modern, hingga tiba pada zaman kontemporer. Bahkan, perkembangan ilmu masih berlangsung hingga hari ini.

3. Dasar ilmu terdiri atas tiga cabang, yaitu ontologi (hakikat ilmu), epistemologi (cara mendapatkan pengetahuan), dan aksiologi (nilai guna pengetahuan).
Ilmu tidak muncul ke dalam kehidupan manusia dengan sendirinya, tetapi diawali dengan pengetahuan. Pengetahuan yang didapatkan pada batas pemikiran dan inderawi tetap sebagai pengetahuan, sedangkan pengetahuan yang dibuktikan kebenarannya melalui proses dan metode ilmiah sudah bisa disebut sebagai ilmu. (Ditulis oleh kelompok 1: Fajar Azhari, Putri Sri Nur Andini, Rizky Handayani Sitorus)